KEBENARAN TAK MUNGKIN DINERACA
Bagai guruh teriak gelegar semua ucap sama dalam ujar:
“Itu peringatan dari Pencipta Semesta,”
Saat pertiwi teraniaya, bergetarlah bantala
Saat pertiwi teraniaya, bergetarlah bantala
Maha Besar... Maha Besar...
Semua nafas lecutkan kata sakral
Kemana bernaung mencari benar?
Kemana mata hati memandang asal?
Ah, gemuruh ujaran sastra lika
Tebar pijar suara mantra-mantra
Adalah wadah dan batas makna
Tertanam di angan anggap hakiki sabda
Oh, jiwa-jiwa terperdaya di alam lamunan
Tak ke lapang hanya sebatas keyakinan
Genggam kebenaran tanpa terbuktikan
Seolah maha jendra ada di alam angan
Di sana, kau diam seakan bernaung pada kebenaran
Tepis sastra alam, takut dianggap kesesatan
Hardik kenyataan dengan tongkat begawan
Membatas kebenaran melawan keagungan
Hardik kenyataan dengan tongkat begawan
Membatas kebenaran melawan keagungan
Ah, tak temukan batas luas semesta
Tak mau baca sebagai tanda Sabda
Bahwa kebenaran tak bisa di neraca
Sebab ciptaan tak mungkin rengkuh Sang Khaliknya
Senin, 5 Agustus 2018


