Sabtu, 19 Januari 2019

CERPEN ANAK “Kalung Kayu Topi Trembesi” TUGAS MATA KULIAH SASTRA ANAK SEMESTER II



Kalung Kayu Topi Trembesi

Oleh: Tata Putra Dimastika
1788201015
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
STKIP PGRI Pacitan




♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫

Libur telah tiba. . . libur telah tiba. . . .
Hore, , , hore, , ,, hore. . . .
Simpanlah tas dan bukumu. . . .
Lupakan keluh kesahmu. . . .
Libur telah tiba. . . libur telah tiba. . . .
Hatiku gembira. . . . ! ! !


                   Lagu itu selalu dinyanyikan tiada henti oleh slamet akhir-akhir ini. Tak perduli kala itu ia sedang membersihkan kandang kuda atau membantu ayahnya mencari rumput di ladang. Fikirannya terus melayang akan keindahan hari libur yang ia bayangkan menurut cerita Pangeran Arya dan teman-temannya kala didepan kelas.
Slamet adalah anak dari Pak Gito seorang perawat kuda di kerajaan Kalisampang. Dirinnya beruntung bisa menikmati pendidikan bersama-sama dengan seorang pangeran dan golongan bangsawan lainnya sebab sang raja ingin menjadikan Slamet sebagai penjaga Pangeran Arya ketika disekolah.

            Masih terngiang perkataan Pangeran Arya dan teman-temannya kepada Slamet. Dengan sombongnya mereka meremehkan pekerjaan ayah Slamet dan berkata tidaklah mungkin apabila Slamet bisa menikmati liburan ke negerei lain dengan menaiki kendaraan keren, asyiknya tempat yang dikunjungi, dan oleh-oleh apa yang mau dibeli.
Dengan muka sedih Slamet yang memang kesehariannya di kandang kuda bersama ayahnya tiba-tiba membanting satu karung kotoran kuda yang baru ia kumpulkan. Ia merasa lelah hidup miskin tanpa keperdulian dari orang tua khususnya Ibu yang telah lama meninggalkan Slamet.

            Bukannya marah, Kanjeng Prabu Candra yang melihat kelakuan Slamet itu malah merasa kasihan dan iba. Maka sore itu dengan keputusannya, Slamet akan diajak bersama keluarga kerajaan untuk berlibur di negeri sebrang dengan para anggota keluarga bangsawan lainnya.
Alangkah bahagiannya Pak Gito khususnya Slamet atas berita ini. Namun berbanding terbalik dengan Pangeran Arya, wajahnya terlihat marah karena harus berbagi kesenangan dengan anak pesuruh di kerajaannya. Penolakan keras tiada henti ia lontarkan kepada ayahandannya, namun keputusan yang sudah di ambil Raja pantang untuk di tarik kembali karena selama ini Raja terkenal akan kebertanggung jawabannya.

            Hari yang ditunggu Slamet pun tiba, rombongan kereta kencana kuda yang selama ini hannya ia bersihkan bersama sang ayah pun mampu ia nikmati dengan duduk berdampingan anak-anak bangsawan dari kerajaannya dan akan menuju tempat indah untuk menikmati libur panjang akhir tahun. Perjalanan panjang nan menyenangkan sebisa mungkin Slamet nikmati, walau sesekali Pangeran Arya memandang sinis kepadannya dan mengompakkan teman –temannya untuk tidak bercengkrama dengan Slamet.

            Ditengah perjalanan diujung air terjun nan eksotik tiba-tiba salah satu kereta kencana penganggkut makanan paling depan mengalami kerusakan pada rodannya, maka disituasi itu Panglima Perang yang menjadi penjamin keamanan rombongan memutuskan untuk bermalam di tempat itu.
Kondisi malam disini sangatlah indah nan menawan. Gugusan rasi bintang yang terlihat rapi seolah menanbah kegemerapannya rembulan yang sedang berkembang besar-besarnya. Apalagi ditambah dengan makanan-makanan lezat yang bebas untuk dimakan malam itu, membuat Slamet merasakan hidup makmur layaknya Pangeran semalam.

            Karena terlalu banyak Slamet memakan daging, pada tengah malam dikala para bangsawan lain sudah terlelap ia malah merasakan perutnya sakit yang dengan hebat mengajak untuk sesegera mungkin membuang kotorannya. Lagi-lagi kali ini hal baru dilami Slamet. Biasannya ia merasa sakit perut karena kurang makan, tapi malam ini ia merassakan kekenyangan yang sangat amat sehingga tak kuasa menahan buang air besar.
Setelahnya Slamet buang air besar, dihadapannya berjalan setangkai pohon Sengon kecil sembari menyanyi-nyanyi berjalan menembus air terjun dihadapannya. Alangkah terkesimannya Slamet melihat hal aneh itu. Dengan beraninnya, Slamet yang merasa penasaran menembus derasnya air terjun itu. Dan ternyata dibaliknya terdapat dinding ukiran kayu dengan pintu masuk terbuat dari emas yang mengajak slamet untuk berbicara. Katanya Slamet boleh masuk asal dia mau berjanji untuk tidak akan membawa keluar secuil hartapun di dalamnya dan akan mendapat hadiah kalau sudah keluar dari pintu tersebut.
Slamet yang memang sudah diajarkan menjadi sosok yang pemberani oleh ayahnya lalu memutuskan untuk masuk kedalam pintu emas yang mampu berbicara tersebut. Dengan cepatnya Slamet seperti terjun dari perosotan raksasa emas yang menggiringnya menembus awan putih yang harumnya seperti parfum-parfum persis bak kepunyaan para bangsawan.
Sesampainnya diujung prosotan, Slamet dikejutkan dengan pesta meriah yang diadakan para gerombolan pohon-pohon ajaib yang mampu bergerak, berbicara,  menari bahkan ada yang menyaanyi layaknya manusia. Dalam kebinggungannya berjalan, ketika itu ia disapa dengann hangat oleh trembesi yang langsung memperkenalkan diri. Wajahnya memang terlihat garang namun gaya bicarannya sangat ramah dan lucu. Ia menjelaskan kepada Slamet bahwa satu jam di balik air terjun ini sama halnya dengan satu hari di dunia manusia. Maka Trembesi mempersilahkan Slamet untuk bersenanng –senang sekirannya seminggu di sini.
Banyak hal menarik yang dialami Slamet  di dunia pohon ini. Seketika itu juga Slamet mampu menjadi seorang Raja Pohon yang diagung-agungkan, diberi kekuatan layaknya penyihir yang mampu merubah kondisi apapun seperti menciptakan apapun di negeri itu. Slammet yang memang sangat menyukai akan makanan, maka tiada henti ia terus bermain sulap menciptakan makanan yang enak-enak. Disana juga sudah disediakan banyak sekali harta yang melimpah seperti tumpukan emas, berlian, untaian zamrud dan masih banyak lagi yang menarik. Dengan kekuatannya ia merombak kondisi hutan ajaib yng sebelumnya tampak kurang teratur menjadi lebih enak dipandang. Semua pohon-pohon diberi teman berupa burung yang sangat indah dan merdu kicauannya. Slamet membuat tempat tinggal rrumah pohon dengan bahan dasar kayu yang sudah lapuk dan mati dengan kekuatannya. Didalamnyaa Slamet mendekorasi layakna kamar yang mirip kepunyaan Pangeran Arya. Disana banyak terdapat makanan, mainan yang bagus dan mahal, baju baerkelas dan harum parfun yang paling wangi di dunia.
Tiga hari berlangsung,  Slamet sudah merasa jenuh dengan kehidupannya yang gemerlap harta namun hatinnya tidak merasa bahagia karena semua itu bukan merupakan hasil kerja kerasnya sendiri. Ia selalu teringat dengan ayahnya yang entah hari ini sudah makan atau belum, biasannya untuk membuat Slamet kenyang Pak Gito harus menahan lapar dan memberi jatah makannya kepada Slamet.
Lalu ia memutuskan memanggil Trembesi untuk meminta tolong agar mengembalikannya keluar pintu emas balik air terjun. Keinginan itupun terlaksana, tiga hari berlalu berarti baru tiga jam di kehidupan manusia. Tepat pukul tiga pagi, Slamet tiba –tiba seperti terbang tersedot oleh angin besar yang menariknya dan seketika itu juga Slamet berdiri tegak dengan memegang kotak dari kayu jati di depan pintu emas balik air terjun.

            Karena masih belum percaya akan apa yang baru saja dialami, maka slamet bergegas untuk menuju tenda dimana Pangeran dan lainnya terlelap. Pangeran yang ternyata belum tidur merebut kotak kayu milik Slamet dan membukannya, isinya ternyata adalah kalung dari kayu ajaib yang bisa menyala dalam kegelapan dan bersinar ketika dipegang. Apalagi kalau digosok-gosok, kalung itu akan muncul makanan yang dikehendaki pemiliknya.
Pangeran Arya yang sangat penasaran akan asal-usul kalung itu mencoba untuk memaksa Slamet memberi tahu darimana ia mendapatkannya. Slamet yang memang sadar akan tugasnya adalah menjadi pengawal sekaligus pelayan Pangeran tidak panjang berfikir langsung menceritakan semuannya.

            Karena ingin membuktikan keseriusan Slamet, Pangeran Arya mencoba untuk mengendap-endap ke kereta barang paling belakanng untuk merusak rodannya. Dengan sengaja ia mematahkan penyangga roda kereta menggunakan gergaji yang dicuri dari kereta tersebut. Gunannya adalah supaya rombongan tetap di tempat sekirannya sampai sore hari menunggu para mekanik kerajaan memperbaiki roda-roda yang patah.
Dengan sangat optimisnya Pangeran masuk melalui pintu seperti apa yang telah diceritakan Slamet kepadannya dan ternyata aturan yang diberlakukanpun tetap sama. Alangkah senangnya Pangeran Arya dengan keajaiban dan kesaktiannya di alam pohon tersebut. Banyak kebijakan yang ia ambil selama disana. Dengan seenaknya dia menjadikan pohon-pohon yang sebelumnya riuh akan pesta sekarang harus berkelahi sesamannya hanya untuk membangun istana kayu megah arsitektur urakan dari sang pangeran. Trembesi yang sebelumnya ramah tehadap tamu sekarang dijadikan Pangern Arya sebagai singgasanannya di kerajaannya yang baru. Setiap saat ia duduki dan walaupun menangis meminta untuk mengembalikan semua dengaan seperti keadaan semula, Pangeran Arya malah tertawa sombong enggan untuk menuruti seluruh keinginan Trembesi.
Merasa kemampuannya tidak ada yang melihat selain makhluk kayu, sesuai sifat pamernya setelah satu minggu berlalu di dunia baru itu, Pangeran berniat untuk keluar dengan membawa banyak sekali harta yang sengaja ia wadahi karung-karung dengan jumplah banyak lalu di angkut dengan kesaktiannya guna dipamerkan kepada semua orang.
Seakan lupa dengan pesan Slamet dan pintu emas tatkala dilarang membawa harta apapun, Pangeran Arya tetap tak menggubrisnya. Alahasil setelah berhasil keluar dari alam itu,  semua karung yang dibawa Pangeran Arya tidak lagi berisi emas, berlian, untaian zamrud dan barang-barang berharga lainnya. Melainkan sudah berubah menjadi tumpukan arang kayu yang baunnya seperti bangkai tikus yang telah mati.
Namun Pangeran masih bisa tersenyum karena ditaangannya kini ia memegang kotak kayu yang pasti berisi benda ajaib layaknya milik Slamet. Anggapannya Slamet yang suka makan mendapatkan alat yang bisa membuat makanan, maka pangeran yang suka harta pasti akan mendapatkan benda yang jika digosok akan muncul emas atau berlian.
Setelah dibuka  ternyata isinya adalah sebuah topi yang terbuat dari kayu trembesi. Seketika itu langsung digosok, namun tidak ada reaksi apapun yang keluar. Setelah berinisiatif dipakai. Alangkah terkejutnya Pangeran karena merasakan gatal yang begitu hebatnya di rambutya dan topi kayu trembesi itupun sulit untuk dilepas sehingga Arya tidak bisa menggaruk kulit kepalannya.
Dengan tertawa terbahak-bahak, sang pintu emas balik air terjun berbicara kepada Pangeran Arya. Mengatakan bahwa kutukannya akan hilang jika sudah mempunyai watak baik dan tidak lagi bersikap sobong dalam kehidupannya walau punya kekuasaan mentang-mentang menjadi keturunan seorang raja.

            Rasa gatal itu hilang dari kepala Arya setelah ia mengucap sumpah akan hidup baik di balik air terjun. Namun topi trembesinya tidak pernah bisa akan terlepas selama ia hidup didunia sebagai hukuman atas kesombongannya. Jika ia melakukan kesombongan dan keburukan maka topi itu akan menciptakan rasa gatal dikepala dengan hebatnya.

            Setelah kejadian itu, Slamet dan Pangeran Arya menjalin hubungan dengan amat sangat baik. Liburan pertama Slamet berjalan dengan menarik karena pertama kalinnya ia bisa merasakan bermain dengan golongan bangsawan apalagi pangeran Arya yang selama ini acuh tak mau main dengannya.

           


Hampir setengah abad berlangsung, , , , , ,
           
            Kerajaan Kalisampang dipimpin Arya setelah peninggal Prabu Candra. Dengan kutukannya yang dibuat baik oleh topi trembesi kini kerajaan ini menjadi kerajaan terbesar didunia dan menjadi yang paling makmur, kaya, aman, sejahtera dan bersahaja berkat sang jendral panglima perang Slamet yang sampai saat ini masih memiliki ajian kesaktian menciptakan makanan. Kesaktian itu lantas di manfaatkan untuk membuat rakyat-rakyatnya merasa kenyang setiap saat. Sehingga sumber daya manusia di kerajaan Kalisampang sangat unggul dan berbadan bagus. Begitu pula dengan Slamet, anak kecil yang kurus kering dan berambut gimbal serta selalu berpakaiyan kumuh dulu tumbuh menjaadi remaja yang tampan, bersih dan gagah perkasa dengan badan yang menggemuk karena nutrisi serta makanan yang ia konsumsi sangat berlimpah. Hingga kini saat ia menjadi tua konndisi tubuhnya tidak berubah, ia masih menjadi Slamet gemuk , besar dan berotot yang ditakuti mungsuh-mungsuhnya karena berwajah garang nan bengis.
Mengenai Arya yang sekarang telah menjadi raja. Kemakmuran negerinnya membuat dia sangat berwibawa dimata dunia sehingga mampu mempersunting putri raja dari negeri sebrang yang memang terkenal akan kecantikan parasnya. Dengan menikahi Putri tersebut kini ia memiliki empat keturunan yang semuannya laki-laki dan berwatak baik serrta sopan. Pendidikannya disetarakan dengan golongan apapun. Pada era Arya, sekolah tidak lagi khusus untuk anak bangsawan saja, namun seluruh anak penghuni negeri diwajbkannya belajar di kerajaan. Hingga pada akhirnya ia dijuluki Raja Baik Topi Trembesi oleh seluruh rakyatnya.
Pada usia ke 66, pagi hari seetelah raja bangun dari tidurnya dengan sendirinnya topi trembesi yang selama ini menempel dikepala Raja tiba-tiba terlepas dan terbang menuju  langit serta berujung entah dimana. Mungkin karena selama ini raja sudah berbuat baik dan tanpa sekalipun berbuat hina. Dengan kebiasan yang terjadi, di sisa umurnya kini ia tidak lagi membuat kesalahan atau keburukan walau tidak memakai topi trembesi lagi.
Kini pintu emas dibalik air terjun adalah sebuah misteri yang tak akan pernah diceritakan oleh Slamet dan Pangeran Arya. Biarlah takdir yang membawa manusia lain kesana.
Dan di setiap liburan akhir tahun, kerajaan Kalisampang akan membuat tour gratis ke semua anak untuk bisa menikmat wisata keliling penjuru dunia. Tentunnya dengan persediaan makanan yang melimpah dari sang Panglima Perang Prabu Slamet anak perawat kuda paling ulung,  Pak Gito.




Pacitan, 02/10/2018

Kamis, 17 Januari 2019

MONOLOG PAGI "SENTIR GOSONG PART I" - SAMBUNG CERITANYA DENGAN KARYAMU, TULIS DI KOLOM KOMENTAR !!! AKAN DI PUBLIKASIKAN DI BLOG INI





Monolog Pagi,


Namaku Tupani;, Lengkapnya Tupani Bin Yatno Bin Marno.

Aku bukan keturunan Arab, Melainkan Blasteran Dusun Mbalong dan Kalisampang.
Kelahiranku lepas sedikit dari tengah malam hari Saptu Pon, mungkin itu alasan simbok mengusulkan nama Tupani kepada mamakku. Sangking hormatnya pada sang ibu mertua mamak yang awalnya menyiapkan nama Abimanyu padaku harus rela menuruti titah simbok.

Kala itu memang lagi musim paceklik yang amat sangat meyusahkan. Kata orang-orang, proses kelahiranku sangat mengenaskan: baru lahir tubuhku sudah ditumbuhi panu, mungkin akibat tidak pernahnya aku mandi pagi atau juga sebab bajuku hanya punya tiga helai dan jarang dicuci.

Sebagaimana anak-anak lain yang hidup di kampung miskin nan tandus, otakku terlalu lamban untuk diajak berfikir. Mungkin karena memang aku kekurangan gizi.
Tapi, untung saja otakku lebih mendingan dibanding kawan karibku Si Yono, dia sering menjadi langganan tidak naik kelas kala itu. Sempat ingin membacok wali kelas empat yang menahannya lebih dari tiga kali tinggal kelas. Yono bukanlah anak yang idiot, ya memang dia lamban saja dalam berfikir.

Sebabnya identik denganku, setiap pagi sarapannya tidak jauh dari olahan singkong. Aku dan Yono  walau hanya berstatus tetangga namun kebersamaan kami layaknya sepasang  saudara kembar. Dulu sempat ada jadwal seminggu tidur dirumah Yono seminggu lagi tidur dirumahku.

Beruntungnya sekarang, Yono sudah berkeluarga dengan meminang Wati sebagai istrinya walau beberapa tahun ini belum juga mempunyai anak dari hasil perkawinannya. Sikapnya masih sama saja seperti dulu, kabarnya kala  ia bertengkar dengan istri atau mertuanya seketika Yono lagsung “purik”, ngambekan dan bertingkah konyol,  sempat kala itu dia nesu pulang kerumah orang tuannya dengan membawa kambing-kambing peliharaan Yono di rumah mertuannya.


Bersambung. . . . .



LANJUTKAN MONOLOG INI DENGAN CERITAMU SENDIRI DI BILIK KOMENTAR ATAU LANGSUNG MENGHUBUNGI ADMIN,
KARYA UNIK KALIAN AKAN DI PUBLIKASIKAN DI BLOG INI.


Minggu, 13 Januari 2019

Mengkaji Puisi Joko Pinurbo yang Berjudul “Celana1” Dengan Teori Semiotika



Mengkaji Puisi Joko Pinurbo yang Berjudul “Celana1” Dengan Teori Semiotika


Celana, 1

Ia ingin membeli celana baru
buat pergi ke pesta
supaya tampak lebih tampan
dan meyakinkan.

Ia telah mencoba seratus model celana
di berbagai toko busana
namun tak menemukan satu pun
yang cocok untuknya.

Bahkan di depan pramuniaga
yang merubung dan membujuk-bujuknya
ia malah mencopot celananya sendiri
dan mencampakkannya.

“Kalian tidak tahu ya
aku sedang mencari celana
yang paling pas dan pantas
buat nampang di kuburan.”

Lalu ia ngacir
tanpa celana
dan berkelana
mencari kubur ibunya
hanya untuk menanyakan:
“Ibu, kausimpan di mana celana lucu
yang kupakai waktu bayi dulu?”

1996









Analisis :
Penyair menganalogikan celana sebagai “sifat kepribadian”. Pada bait pertama dia ingin mencari sifat kepribadian yang cocok untuk kehidupan duniawi. Hal ini terletak pada kalimat “Pergi ke pesta” yang berarti nikmat duniawi.

Ia ingin membeli celana baru
buat pergi ke pesta
supaya tampak lebih tampan
dan meyakinkan.

Lalu dilanjutkan pada bait kedua. Pada bait kedua ini penyair telah mencoba berbagai “sifat kepribadian” namun tidak ada yang cocok dengan dirinya.

Ia telah mencoba seratus model celana
di berbagai toko busana
namun tak menemukan satu pun
yang cocok untuknya.

Setelah itu pada bait ketiga. Bait ketiga ini penyair dirayu oleh setan atau kenikmatan duniawi yang digambarkan penyair sebagai “Pramuniaga”, namun penyair tidak peduli dan malah melepaskan dan mencampakan “sifat kepribadian” yang ditawarkan. Hal itu terlihat pada kalimat “ia malah mencopot celananya sendiri
dan mencampakkannya”

Bahkan di depan pramuniaga
yang merubung dan membujuk-bujuknya
ia malah mencopot celananya sendiri
dan mencampakkannya.

Pada bait keempat ternyata penyair sedang mencari “Celana yang pas buat nampang dikuburan” maksutnya adalah penyair sedang mencari “sifat kepribadian” yang pas dan cocok dibawa saat dikuburan atau bisa dikatakan sifat yang baik yang bisa dibawa mati.

“Kalian tidak tahu ya
aku sedang mencari celana
yang paling pas dan pantas
buat nampang di kuburan.”

Pada bait kelima penyair “ngacir tanpa celana dan berkelana” maksutnya adalah dia pergi tanpa “sifat kepribadian” dan berkelana untuk mencari kuburan ibunya. Lalu dia mencari kuburan ibunya hanya untuk menanyakan “Ibu, kausimpan di mana celana lucu yang kupakai waktu bayi dulu?” maksutnya adalah dia menanyakan kepribadian suci, lucu dan bai seerti bayi, akan tetapi tidak mendapatkan jawaban, karena ibunya telah meninggal, hal ini terdapat pada kalimat  “mencari kubur ibunya hanya untuk menanyakan:“Ibu, kausimpan di mana celana lucu yang kupakai waktu bayi dulu?”

Lalu ia ngacir
tanpa celana
dan berkelana
mencari kubur ibunya
hanya untuk menanyakan:
“Ibu, kausimpan di mana celana lucu
yang kupakai waktu bayi dulu?”

Simpulan:
Jadi maksut celana disini adalah kepribadian yang baik dan cocok untuk si penyair untuk dibawa ke kuburan atau mati. Akan tetapi sipenyair tidak menemukan kpribadian yang cocok untuk dirinya. Lalu dia menanyakan kepada ibunya yang sudah meninggal dan tidak mendapatkan jawaban ap

Sabtu, 12 Januari 2019

MAKALAH SASTRA POPULER //

 

SASTRA POPULER
 
Tata Putra Dimastika
1788201015
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
STKIP PGRI Pacitan
Email: tataputradimastika@gmail.com



LATAR BELAKANG
            Karya sastra pada khususnya tidak bisa terlepas dari perkembangan zaman itu sendiri. Perkembangan yang setiap saat terjadi di masyarakat mau tidak mau berpengaruh terhadap perkembangan karya sastra. karya sastra tidak terlepas dari pesan/tema yang diusungnya, maka tidak jarang pula muncul tuntutan untuk melakukan penyelesaian atas tema bersangkutan. Dengan demikian, cara penyelesaiannya tidaklah gampang, tidak pula artifisial, dan muncul tidak sebatas yang tampak dipermukaan, jika penyelesaiannya dilaksanakan secara gampang, ia akan masuk kedalam apa yang disebut sebagai sastra populer.  Sastra populer ditandai oleh penggunaan ragam bahasa tertentu yang dianggap tak standar, yang “menyimpang” dari kaidah-kaidah bahasa yang berlaku. Karena ragam bahasa yang digunakannya itulah, sastra populer dianggap sebagai sastra yang tidak bermutu dan tidak bermasa depan.

Menurut Ario Bimo kesalahan yang sering ditemui adalah mengenai kecermatan membedakan antara bahasa lisan dengan bahasa tulis. Pengarang bahasa populer kadang kala kurang memahami seperti penempatan titik dan koma kalimat. Menurutnya pengabaian terhadap tata bahasa, malah akan menghilangkan unsur-unsur penting dalam novel, tokoh, alur, tema, peneceritaan dan latar.

            Supaya kita mengerti betul dengan pentistilahan sastra populer dengan sastra, ada baiknya jika kita mengutip beberapa pendapat. Menurut Umar Kayam (1981:82) sebutan novel populer atau novel pop. Mulai merebak sesudah suksesnya novel Karmila dan Cintaku di Kampus Biru pada tahun 70-an. Sesudah itu novel hiburan tidak peduli mutunya, disebut juga novel pop. Kata pop erat diasosiasikan dengan kata populer, mungkin karena novel-novel itu sengaja ditulis untuk “selera populer” yang kemudian dikenal sebagai bacaan populer. Dan jadilah istilah “pop” itu sebagai istilah baru dalam dunia sastra.



PEMBAHASAN
    A. Sastra Populer
Sastra popular adalah sastra yang telah mengikuti perkembangan zaman. Dimana karya sastranya telah terpengaruh dengan kebudayaan barat. Sebutan “sastra populer” atau “sastra pop” sebenarnya sudah mulai bergema di tahun 70-an. Ketika, misalnya, novel Cintaku di Kampus Biru dan Karmila sukses di pasaran. Sebetulnya, Wacana popular dalam sastra di Indonesia pernah terjadi ketika maraknya karya dari penulis Tionghoa. Misalnya pada karya Bunga Roos Dari Tjikembang, Drama di Boven Digul, Drama dari Merapi, Drama dari Krakatau karya Kwee Tek Hoay dan lain-lain, Saat ini, wacana popular muncul lagi dalam dunia sastra kita. Dikatakan popular karena dianggap banyak disukai oleh masyarakat umum, sesuai dengan tren, atau sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan menguntungkan.

Keadaan tersebut membuat karya popular dijustifikasi sebagai karya yang bermutu rendah, yang hanya akan bergerak pada kepuasan-kepuasan sesaat. Padahal, jika kita menganalogikan keadaan boomingnya sastra popular semisal Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy, Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, dan lain sebagainya pada kondisi sastra Melayu Tionghoa yang juga bersifat popular, kita mungkin akan dapat menentukan sikap, di mana seharusnya kita berdiri dalam menilai karya-karya popular.

Dalam Culture and Environment yang ditulis oleh Leavis dan Thompson pada 1933, mereka menyalahkan fiksi popular karena menawarkan bentuk-bentuk berupa ‘kompensasi’ dan ‘distraksi’. Dikatakan kompensassi karena ia cenderung menambahkan ketidakmampuan seseorang pada penolakan untuk menghadapi realitas. Selain itu, Leavis dalam Fiction and the Reading Public menunjuk bahwa bagi pembaca fiksi romantis, kebiasaan membaca fiksi jenis itu akan melahirkan kebiasaan berfantasi dan akan menyebabkan ketidakmampuan berhadapan dengan kebutuhan lingkungan sosial. Menurut mereka, self-abuse itu cukup buruk, namun masih ada yang jauh lebih buruk, yakni kecanduan terhadap bacaan fiksi romantis.

Perkembangan industrialisasi berperan besar dalam memberikan ruang bagi tumbuhnya `sastra massa’ atau `sastra populer’, yaitu bentuk-bentuk sastra yang mempunyai akar pada kebutuhan, cara berpikir, pengetahuan, problematika dan selera orang-orang kebanyakan. Sastra macam ini menjadi bagian dari `industri budaya’ (culture industry), yang diproduksi untuk massa yang luas melalui pola-pola industrial. Ada semacam proses `kapitalisasi’, di mana sastra—dengan sengaja atau tak disengaja—menjadi tempat untuk mendapatkan keuntungan ekonomi, di dalam sebuah `komodifikasi budaya’ (commodification of culture).

Lain halnya dengan sastra popular islami, yang berawal dari majalah Annida dan mengusung dakwah Islam. Sejak tahun 1999 setelah penulis cerpen Annida bergelut di FLP, mereka melihat adanya kesamaan visi antara media dan juga penuslisnya.Tema Tuhan dan religiusitas Islami bukan hal baru dalam ranah sastra tanah air. Sejak lama tema tersebut telah jadi bagian dalam perkembangan sastra di Indonesia. Meski tak secara eksplisit menasbihkan diri sebagai sastra Islami, namun tak dapat dipungkiri sastra pencerahan yang diusung Danarto, sastra profetik oleh Kuntowijoyo, sastra sufistik oleh Abdul Hadi WM serta sastra transenden oleh Sutardji Calzoum Bachri merupakan sari pati dari sastra Islami. Pada tahun 1970-an, Abdul Hadi WM, Danarto, Fudoli Zaini, Ikranegara, Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, dan beberapa sastrawan lainnya pernah pula menggulirkan konsepsi sastra Islam secara lebih luas.

Jika para sastrawan terdahulu lebih memilih menyajikan nilai-nilai Islam secara implisit, tidak untuk generasi setelah reformasi. Mereka tampak lebih "berani" menyajikan Islam dalam tulisan, bahkan tak segan mengutip ayat Al-quran. Pada dasarnya, sastra popular Islami mampu menangkap kegelisahan zaman. Jika sastra berbicara mengenai representasi yang melihat segmentasi pembaca dan pembaca pun merasa terepresentasikan melalui karya, saya rasa tidak salah, sastra popular Islami menjadi sangat booming. Dalam keberadaan Indonesia yang mayoritas muslim, hal ini tentu tidak menjadi soal. Buktinya, Ayat-Ayat Cinta menjadi salah satu novel dengan penjualan terbanyak selain Laskar Pelangi, dan juga telah berkali-kali cetak ulang. Bahkan, banyak karya lain yang ikut meniru Ayat-Ayat Cinta atau Laskar Pelangi, mulai dari cerita hingga cover bukunya.

Lain dari pada itu, jika kita berbicara mengenai karya sastra, pada dasarnya setiap karya sastra mengandung ideologi yang ditawarkan kepada khalayak pembacanya. Booming Ayat-Ayat Cinta bisa saja mejadi sebuah penyebaran ideologi baru, bahwa dalam karya kita tidak harus malu-malu menyampaikan dakwah melalui karya semisal sastra. Segmentasinya yang lebih memilih “popular” dibandingkan dengan “serius” juga bisa menjadi salah satu bukti bahwa inilah satu-satunya cara agar dapat diterima oleh masyarakat luas, dan sangat mungkin juga berkaitan dengan prinsip-prinsip industrialisasi.

B. Sejarah Sastra Populer
Menurut Nenden Lilis sastra populer muncul dan menempati kurun waktu tertentu yang disetiap kurun waktu itu menunjukkan ciri-ciri yang khas. Dari kekhasan setiap kurun waktu itu dapat dideskripsikan periodisasi sastra populer, yaitu, periode zaman kolonial, periode 1950-1968-an, periode 1970-1990-an, dan periode era reformasi.

Sastra populer mulai dikenal pada masa pemerintahan Hindia-Belanda di abad 19. Pada zaman itu sastra jenis itu bertemakan cerita-cerita tentang kehidupan para nyai, cerita-cerita gaib, dan cerita percintaan yang tidak jarang dimbumbui seks. Jenis bacaan tersebut ditulis baik oleh orang Cina-Melayu maupun pribumi. Bahasa yang digunakan pada sastra jenis tersebut adalah bahasa Melayu-pasaran (rendahan). Karya pertama yang mengawali bangkitnya sastra populer di masa ini salah satunya berjudul Sobat Anak Anak karya Liem Kim Hok. Bacaan ini dianggap hanya menampilkan cerita yang ringan dengan maksud menghibur.

Tidak jarang pula para pengarang jenis ini menyelipkan ideologi tertentu. Contohnya pada fiksi yang ditulis R.M. Tirti Adhi Soerdjo yang memiliki kandungan paham komunis. Pada 1930-an, gejala karya sastra populer semakin menghangat dengan adanya terbitan “roman medan” yang kemudian dianggap sebagai roman picisan. Bacaan tersebut dikatakan murahan karena dalam isinya tidak mengandung kontemplasi yang serius, stereotip, dan dalam beberapa hal relatif mengeksploitasi seks. Pada zaman pendudukan Jepang (1942-1949) karya sastra populer mulai surut karena kondisi yang sedang penuh dengan pergolakan politik dan sosial. Baru pada masa kemerdekaan (1950-1968), muncul novel-novel dan cerpen-cerpen dengan cerita yang didominasi oleh tema percintaan yang dibumbui sensualitas, detektif, dan kobi.

Pada tahun 1970-an, bermunculan bacaan-bacaan yang dianggap populer seperti karya Abdullah Harahap (yang terkenal, misalnya Musim Cinta Telah Berlalu), Eddy D. Iskandar (Cowok Komersil, Gita Cinta dari SMA, Sok Nyentrik, Cewek Komersil), Teguh Esha (Ali Topan Anak Jalan), La Rose (Ditelan Kenyataan), Ike Soepomo (Kabut Sutra Ungu, Kembang Padang Kelabu), Marga T. (Karmila), Ashadi Siregar (Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu, Frustasi Puncak Gunung). Yudhistira (Arjuna Mencari Cinta), dan sebagainya. Tahun tahun ini sastra populer mengalami pergeseran dari ciri sebelumnya. Sastra populer pada masa ini banyak ditulis kaum perempuan. Cerita-cerita yang mendominasi masa ini adalah masalah rumah tangga.

Pada tahun 1980-an, muncul karya Hilman berjudul Lupus yang populer di masyarakat. Selain itu pada dekade ini dikenal para penulis sastra populer semacam Gola Gong atau Zarra Zetira. Pada tahun 1990-an, fiksi populer relatif cukup tenggelam karena mengalami persaingan yang cukup signifikan terhadap perkembangan televisi swasta. Pada dekade ini masyarakat lebih menggunakan waktu luangnya dengan menonton tayangan layar kaca seperti sinetron.

Pada tahun 2000-an, sastra populer kembali berkembang dan beberapa karya sastra populer yang fenomonal kembali menduduki penjualan terbaik. Berbagai predikat dimunculkan dari penerbit untuk memperkuat segmen pembaca. Sebutlah istilah chick lit yang ditujukan untuk penggemar fiksi bertemakan percintaan perempuan dewasa, teen lit untuk kalangan pembaca remaja, atau fiksi islami khusus untuk pembaca muslim dengan tema dan nuansa religius yang tinggi. Beberapa karya dan penulis itu adalah Andrea Hirata dengan tetraloginya (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensol, dan Maryamah Karpov), Habbiburahman el Shirezy (Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Di Atas Sajadah Cinta, dll), atau penulis remaja Rahmania (Eiffel Im In Love, Lost In Love, dll), serta Andre Laksana (Lelaki Terindah, Abadilah Cinta, dan lain-lain).

Pasca orde Baru, yang sering disebut era reformasi, berkembang pesat karya-karya sastra popular dengan motif-motif keagamaan atau yang diistilahkan Moh. Irfan Hidayatullah sebagai Ispolit-Islam Popular Literature (jenis ini telah dirintis sejak sebelum reformasi). Berkembang pula novel dan cerpen-cerpen remaja yang menceritakan perempuan kosmopolitan dengan keseharian kehidupan perkotaan dalam karya-karya chicklit dan teenlit. Jenis-jenis cerita yang ada pada era sebelumnya memang masih berkembang sekali pun tidak mendominasi. Namun, pada periode ini sastra populer tidak banyak diwarnai tema-tema kekerasan (kriminalitas). Hal itu terjadi barangkali karena tayangan-tayangan berita kriminal di televisi telah cukup "memuaskan" masyarakat.



C. Hubungan Sastra Populer dengan Masyarakat
Sastra dalam masyarakat mengacu pada kedudukan produksi-konsumsi sastra dalam masyarakat. Perspektif tersebut menyarankan pentingnya meneliti produksi-konsumsi sastra dalam suatu masyarakat. Apakah karya sastra memiliki posisi penting atau tidak dalam sistem ekonomi masyarakatnya, menduduki posisi elite atau populer, memerankan posisi kunci dalam komunikasi budaya, semua itu merupakan persoalan sastra dalam suatu masyarakat.
Sastra dan masyarakat mengacu pada hubungan antara sastra dengan masyarakatnya. Perspektif tersebut menyarankan pentingnya meneliti hubungan reflektif antara sastra dengan masyarakat. Apakah karya sastra mencerminkan atau tidak kondisi masyarakatnya, merupakan cermin realitas suatu masyarakat atau merupakan dunia impian yang didambakan oleh masyarakat. Dengan demikian, perspektif ini menekankan pentingnya aspek mimetik sastra dan masyarakat.
Perbedaan konsep formula dengan genre pada dasarnya merupakan perbedaan antara jenis karya sastra dengan komponen pembentuknya. Genremerupakan bentuk yang tersusun dari berbagai komponen. Komponen itu sendiri tersusun dari berbagai unsur yang sesuai dengan fungsinya dalam membentuk keseluruhan. Dengan demikian, genre memiliki pengertian jenis karya sastra yang memiliki formula sebagai komponen pembentuknya.Dengan kata lain, formula adalah komponen struktural yang membentuk genre karya sastra.
Sastra populer sebagai sarana pemenuhan kebutuhan escape terletak pada faktor genre sastra tersebut yang memberikan impian yang berbeda dari kenyataan yang dialami oleh masyarakat pembacanya. Sastra populer sebagai sarana pemenuhan kebutuhan relaxation terletak pada faktor genre sastra tersebut yang difungsikan sebagai sarana hiburan oleh masyarakat pembacanya. Sarana escape sastra populer merupakan faktor penting yang membedakannya dengan sastra elite yang terikat secara lekat pada realitas kehidupan sehari-hari.
Fungsi escape ini memberikan harapan kehidupan yang berbeda dan dianggap lebih baik oleh pembacanya. Fungsi relaxation memberikan terapi yang melonggarkan ketegangan hidup yang dialami oleh pembacanya akibat tekanan-tekanan kehidupan sosial sehari-hari yang dialami oleh pembaca tersebut. Kedua fungsi tersebut menentukan efektivitas sastra populer bagi pembacanya. Faktor keindahan sastra populer terletak pada formulanya yang secara struktural tetap namun memiliki isi yang bervariasi.
Kekuatan teori simbolik sebagai salah satu kekuatan utama untuk menjelaskan fungsi kultural sastra pop adalah kemampuannya untuk menganalisis nilai-nilai kultural sastra populer. Kelemahan teori simbolik terletak pada ketidakmampuannya dalam menjabarkan selera masyarakat pembaca sastra populer. Kekuatan teori reflektif sebagai salah satu kekuatan utama untuk menjelaskan fungsi kultural sastra populer adalah kemampuannya untuk menganalisis hubungan reflektif antara sastra populer dengan sistem sosial budaya masyarakatnya. Kelemahan teori reflektif terletak pada ketidakmampuannya dalam menjabarkan sistem produksi-konsumsinya.
Proses dialektis antara sastra formula dengan kultur yang memproduksi dan mengkonsumsinya adalah bahwa formula sastra populer dalam sistem produksi ibarat resep masakan dalam sebuah restoran. Artinya, formula menentukan genre sastra populer sebagai menu yang diproduksi dan disediakan oleh produsen. Dari segi konsumsi, eksistensi sebuah genre sastra populer ditopang oleh sesuai atau tidaknya formula tersebut dengan selera masyarakat pembacanya. Dengan demikian proses dialektis tersebut menunjukkan adanya hubungan kesalingtergantungan antara formula sastra populer dengan sistem produksi konsumsinya. Seperti halnya kesalingtergantungan antara sebuah resep masakan dengan selera kuliner masyarakat.
Partisipasi antara pembaca dengan sastra populer yang dibacanya membentuk hubungan yang diistilahkan oleh Bob Ashley sebagai total culture. Artinya, baik modal budaya yang dimiliki oleh pembaca maupun modal budaya yang terdapat dalam sastra populer berperan dalam pembentukan produksi dan konsumsi makna secara kultural. Misalnya budaya roman berpartisipasi dalam pembentukan makna kultural roman bersama-sama dengan kultur roman pembacanya. Begitu pula, budaya cerita silat berpartisipasi dalam pembentukan makna kultural persilatan bersama-sama dengan kultur persilatan masyarakat pembacanya. Totalitas kultural itulah yang menentukan eksis atau tidaknya sastra populer dalam masyarakat


D. Perbandingan Sastra Lama dengan Sastra Popular
            Pada perkembangannya, sastra Indonesia terbagi menjadi beberapa periode. Secara umum, sastra Indonesia dapat dikelompokkan menjadi sastra Indonesia lama dan populer. Sastra Indonesia lama atau klasik adalah karya sastra yang berkembang sebelum ada pengaruh dari kebudayaan luar, khususnya kebudayaan Barat. Sastra lama diperkirakan lahir pada tahun 1500 sampai abad XIX. Adapun sastra Indonesia baru atau popular adalah karya sastra yang berkembang setelah adanya pengaruh kebudayaan Barat pada awal abad XX.
Beberapa kritikus sastra telah mengemukakan pendapatnya mengenaiperiodisasi sastra Indonesia ini, yakni sebagai berikut:
1. Zuber Usman berpendapat bahwa periodisasi sastra terbagi atas:
a. Kesusastraan lama
b. Zaman peralihan
c. Kesusastraan baru
1) Zaman Balai Pustaka (1908)
2) Zaman Pujangga Baru (1933)
3) Zaman Jepang (1942)
4) Zaman Angkatan ’45 (1945)
2. H.B. Jassin berpendapat bahwa periodisasi sastra dibagi menjadi:
a. Sastra Melayu
b. Sastra Indonesia Modern
1) Angkatan ’20
2) Angkatan ’33
3) Angkatan ’45
4) Angkatan ’66
5) Angkatan ’80

Dua pendapat tersebut, dapatlah diketahui bahwa karya-karya sebelum Angkatan ’20-an atau Balai Pustaka termasuk sastra Indonesia lama. Karya sastra lama, di antaranya hikayat, mite, fabel, legenda, pantun, syair, gurindam, dan mantera. Adapun karya-karya yang dimulai pada masa Balai Pustaka hingga perkembangannya sampai sekarang termasuk sastra Indonesia barn atau modern. Karya sastra Indonesia barn atau modem terbagi atas tiga jenis, yakni prosa (contoh: roman, novel, dan cerpen), puisi, dan drama.
            Karya sastra terbagi ke dalam karya sastra lama dan populer, baik dalam genre (jenis) puisi maupun prosa. Ciri karya sastra lama secara umum adalah bahasa yang dipergunakannya dan identitas penulisnya. Bahasa yang digunakan dalam karya sastra lama umumnya adalah Bahasa Melayu lama.Pebandingan Karya Sastra Lama Klasik dan Popul
 Sastra Lama
a. Puisi berbentuk terikat dan kaku
b. Prosa lama statis (sesuai dengan keadaan masyarakat lama yang mengalami perubahan lambat)
c. Istana sentris (cerita berkisah tentang kerajaan atau keluarga raja)
d. Prosa hampir seluruhnya berbentuk hikayat atau dongeng. Pembaca dibawa ke alam khayal.
e. Dipengaruhi oleh kesusastraan Hindu dan Arab
f. Pengarangtiya tidak diketahui (anonim)

Sastra Populer
a. Puisi bersifat bebas, baik bentuk maupun isinya
b. Prosa baru dinamis (selalu berubah dengan perkembangan masyarakat)
c. Masyarakat sentris (mengambil bahan dan kehidupan sehari-hari)
d. Karya sastra (puisi, novel, cerpen, drama) berdasarkan dunia nyata.
e. Dipengaruhi oleh kesusastraan Barat
f. Pengarangnya diketahui dengan jelas dan identitas penulis atau pengarangnya tidak diketahui (anonim). Secara khusus, puisi maupun prosa mempunyai ciri-ciri tersendiri.

E. Contoh Karya Sastra Populer dalam Novel Laskar Pelangi
Diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh penulisnya sendiri, buku “Laskar Pelangi” menceritakan kisah masa kecil anak-anak kampung dari suatu komunitas Melayu yang sangat miskin Belitung. Anak orang-orang ‘kecil’ yang mencoba memperbaiki masa depan mereka.

SD Muhammadiyah (sekolah penulis ini), tampak begitu rapuh dan menyedihkan dibandingkan dengan sekolah-sekolah PN Timah (Perusahaan Negara Timah). Mereka tersudut dalam ironi yang sangat besar karena kemiskinannya justru berada di tengah-tengah gemah ripah kekayaan PN Timah yang mengeksploitasi tanah ulayat mereka.

Kesulitan terus menerus membayangi sekolah kampung itu. Sekolah yang dibangun atas jiwa ikhlas dan kepeloporan dua orang guru, seorang kepala sekolah yang sudah tua, Bapak Harfan Efendy Noor dan ibu guru muda, Ibu Muslimah Hafsari, yang juga sangat miskin, berusaha mempertahankan semangat besar pendidikan dengan terseok-seok. Sekolah yang nyaris dibubarkan oleh pengawas sekolah Depdikbud Sumsel karena kekurangan murid itu, terselamatkan berkat seorang anak idiot yang sepanjang masa bersekolah tak pernah mendapatkan rapor.

Sekolah yang dihidupi lewat uluran tangan para donatur di komunitas marjinal itu begitu miskin: gedung sekolah bobrok, ruang kelas beralas tanah, beratap bolong-bolong, berbangku seadanya, jika malam dipakai untuk menyimpan ternak, bahkan kapur tulis sekalipun terasa mahal bagi sekolah yang hanya mampu menggaji guru dan kepala sekolahnya dengan sekian kilo beras, sehingga para guru itu terpaksa menafkahi keluarganya dengan cara lain. Sang kepala sekolah mencangkul sebidang kebun dan sang ibu guru menerima jahitan.

       Kendati demikian, keajaiban seakan terjadi setiap hari di sekolah yang dari jauh tampak seperti bangunan yang akan roboh. Semuanya terjadi karena sejak hari pertama kelas satu sang kepala sekolah dan sang ibu guru muda yang hanya berijazah SKP (Sekolah Kepandaian Putri) telah berhasil mengambil hati sebelas anak-anak kecil miskin itu.

Dari waktu ke waktu mereka berdua bahu membahu membesarkan hati kesebelas anak-anak tadi agar percaya diri, berani berkompetisi, agar menghargai dan menempatkan pendidikan sebagai hal yang sangat penting dalam hidup ini. Mereka mengajari kesebelas muridnya agar tegar, tekun, tak mudah menyerah, dan gagah berani menghadapi kesulitan sebesar apapun. Kedua guru itu juga merupakan guru yang ulung sehingga menghasilkan seorang murid yang sangat pintar dan mereka mampu mengasah bakat beberapa murid lainnya. Pak Harfan dan Bu Mus juga mengajarkan cinta sesama dan mereka amat menyayangi kesebelas muridnya. Kedua guru miskin itu memberi julukan kesebelas murid itu sebagai para Laskar Pelangi.

Keajaiban terjadi ketika sekolah Muhamaddiyah, dipimpin oleh salah satu laskar pelangi mampu menjuarai karnaval mengalahkan sekolah PN dan keajaiban mencapai puncaknya ketika tiga orang anak anggota laskar pelangi (Ikal, Lintang, dan Sahara) berhasil menjuarai lomba cerdas tangkas mengalahkan sekolah-sekolah PN dan sekolah-sekolah negeri. Suatu prestasi yang puluhan tahun selalu digondol sekolah-sekolah PN.

Tak ayal, kejadian yang paling menyedihkan melanda sekolah Muhamaddiyah ketika Lintang, siswa paling jenius anggota laskar pelangi itu harus berhenti sekolah padahal cuma tinggal satu triwulan menyelesaikan SMP. Ia harus berhenti karena ia anak laki-laki tertua yang harus menghidupi keluarga, sebab ketika itu ayahnya meninggal dunia.

Belitong kembali dilanda ironi yang besar karena seorang anak jenius harus keluar sekolah karena alasan biaya dan nafkah keluarga justru disekelilingnya PN Timah menjadi semakin kaya raya dengan mengekploitasi tanah leluhurnya. Meskipun awal tahun 90-an sekolah Muhamaddiyah itu akhirnya ditutup karena sama sekali sudah tidak bisa membiayai diri sendiri, tapi semangat, integritas, keluruhan budi, dan ketekunan yang diajarkan Pak Harfan dan Bu Muslimah tetap hidup dalam hati para laskar pelangi.

Akhirnya kedua guru itu bisa berbangga karena diantara sebelas orang anggota laskar pelangi sekarang ada yang menjadi wakil rakyat, ada yang menjadi research and development manager di salah satu perusahaan multi nasional paling penting di negeri ini, ada yang mendapatkan bea siswa international kemudian melakukan research di University de Paris, Sorbonne dan lulus S2 dengan predikat with distinction dari sebuah universitas terkemuka di Inggris. Semua itu, buah dari pendidikan akhlak dan kecintaan intelektual yang ditanamkan oleh Bu Mus dan Pak Harfan. Kedua orang hebat yang mungkin bahkan belum pernah keluar dari pulau mereka sendiri di ujung paling Selatan Sumatera sana.

Banyak hal-hal inspiratif yang dimunculkan buku ini. Buku ini memberikan contoh dan membesarkan hati. Buku ini memperlihatkan bahwa di tangan seorang guru, kemiskinan dapat diubah menjadi kekuatan, keterbatasan bukanlah kendala untuk maju, dan pendidikan bermutu memiliki definisi dan dimensi yang sangat luas. Paling tidak laskar pelangi dan sekolah miskin Muhamaddiyah menunjukkan bahwa pendidikan yang hebat sama sekali tak berhubungan dengan fasilitas. Terakhir cerita laskar pelangi memberitahu kita bahwa bahwa guru benar-benar seorang pahlawan tanpa tanda jasa


KESIMPULAN
            Sastra populer merupakan suatu sastra dimana karya sastranya telah terpengaruh dengan kebudayaan lain seperti kebudayaan barat. Sastra populer ini karya-karyanya lebih mengacu pada perkembangan yang terjadi di masyarakat. Karya-karya sastra popular ini juga dibuat berdasarkan kisah nyata atau pengalaman dari penulisnya itu sendiri.

SARAN
Penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna, penulis mengharapkan kepada pembaca kritik dan saran yang membangun terhadap makalah ini agar makalah ini bisa disempurnakan dan bermanfaat bagi para pembaca.




DAFTAR PUSTAKA

    http://laskarpelangithemovie.blogspot.com/2008/08/sinopsis.html



www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com