Jumat, 08 Oktober 2021

Sabtu, 07 Agustus 2021

Menurku



Hanya aku.
Memetikmu,
Mutiara membunga.


Aku yang mendapatimu sedang berada di dunia dengan tidak mengenal malam, tak kenal siang. Didalamnya ada alun alun bercahaya gemerlapan. Kendaraan makhluknya kereta kencana naga dengan sisiknya yang emas senantiasa menetes bagaikan hujan berkah.

Kamu berujar "Aku serahkan hidupku hanya kepadannya yang bisa mengupas keadaanku saat bersinar seperti Surya di fajar pagi"..

Izinkan aku menyapamu,
Serentak berlian gapura pendapa berkilauan, batuan Widuri bersinar biru indah, bunga istanamu menunda untuk layu meniatkan untuk melihatku.

Izinkan aku singgah...
Bidadari malam menyanyi. Mengintai kembang api malam yang berarak ke timur barat utara dan selatan, bergandeng jadi mega mendung.

Aku mengajakmu ke pendapaku... 
Taman sepi indah nan jauh dari riuh kebisingan. Hanya bunga kenanga yang kubiarkan tumbuh waktu itu. Lintang kemukus nampak kejam terlihat diantara kilat yang berapi.

Kekasihku.....
Wahai kekasihku yang berdiri di daratan dengan menggenggam WANCI RATRI.

Indahmu seakan mengutuk tiga dunia,
Hatimu terbelah luka luka, suram suram cahaya matamu.
Kekasihku engkau dihadapanku tidak mau lelah dalam amarahmu seperti putri dewa matahari.

Kekasihku, teduhkanlah hatimu.....
Bulan yang kau pegang meminta belas kasihmu.
Kau berdiri layaknya bertahta diatas singgasana dewa kematian.
Tenang hatimu sibak embun pagi yang belum terganggu matahari. Menjeritlah kepad siapapun.

Kekasihku,
Lalu mandi dalam samudera hangat,...
Keindahan menggigilnya dalam kehangatan tubuhnya seperti berdiri di puncak dunia dengan berdekatan kepada surya membulan sinar matannya.

Rambutnya mengurai, menghela bunga bunga tanjung menyulamkan kehidupannya di pelataran bunga kenanga.
.......
.......
.......
   "Kekasihku....
   Lihatlah sungai yang mengalir di taman ini !".

Pahamilah dia, kau akan melihat didalamnya bermain beribu mutiara gemerlapan, udara yang segar berenang di permukaannya, kebiruan cahaya langitpun rela berkaca kepadannya.
Itulah milikku.
Tingggalah bersama dia, belajar darinya dan cintailah dia. Akan terbuka bagimu rahasia yang mau kamu mengerti.........

Kekasihku, tertegun senang mengamati menatap aliran sungai bening di taman bunga kenanga.




Matannya disesapi berbagai warna, senyumnya menghambat peredaran bulan purnama......

Jangan terkejut sayang,
Cahaya gelapmu ada dihatimu sendiri.
Didalam hatimu kebijaksanaan bagaikan malam bersayapkan terang yang seharusnya bicara dan kau patuhi....
Kini hatimu berubah menjadi keindahan, dan keindahan itu milik rahasiamu.
Wajah dan tubuh molekmu tidak ada artinya dihadapan hatimu.
Keindahan hinggga tidak mampu kau pelajari lebih dari pada kebenaran, keindahan itu adalah keseimbangan, keseimbangan antara kebahagiaan dan penderitaan, kegembiraan dan kedukaan, harapan dan kenyataan. Dalam keseimbangan mu, penderitaan lenyap harapan dan kenyataan akan indah sayang.

Keindahan layaknya matahari yang tahu diri menarik cahayannya dari sawah sawah ladang ladang, yang diwaktu malam ingin menikmati cahaya bulan.
Dan keindahan itu adalah bunga tanjung, tidak berduri, mekar dalam keharuman karena bersekutu bersama alam semesta.

Hening dimanpun kekasihku.....!!
Kau merasakan bahwa dirimu titah?
Dunia bukan lagi tempat tinggalmu.
Wangi boreh anak bayi semerbak disekitar kita.

Matamu lelah sayang, semangatmu rebah kini.
Kamu memintaku untuk meruwatmu,...

Berada engkau kekasihku di Sela Metangkep. Telingamu kudengarkan nyanyian badai.

Lihatlah dirimu sendiri,
Kecantikan sobongmu meraksasa kasar
Tertawamu yang memikat, amarah yang meremukkan.
Cintamu yang badaniah, kemabukan darah manusia.

Memakai pakaiyan serba halus dengan renda renda putih,...
Menyala dalam terang,
Berpendaran seperti kunang kunang senja,
Hanya mereka kelihatan tidak berdaya.

Wujud hatimu yang kalah dengan .....(......)...

Kekalan gamelan putih, keluar Ari himpitan batu menyandang pedang dan keris putih.
Senjata mengeluarkan api keemas emasan.

Busanamu serba putih, ataukah tampak wadak aslimu, aku terperdaya akan wangimu.

Kekasihku, berteteskan manik manik beringin putih, dadamu bersinar Kencana Rukmi
Rambutmu mengurai bagai bulu bulu halus merak jantan yang keputih putihan.

Tanganmu ringan, padalah gengamanmu 3 buah bulan.
Teruskan langkahmu,...!!!

Matamu  bening dengan cahaya dunia yang tak mengenal siang malam.

Membiarkanmu sebening mata awan,
Ya g hanya bisa menangis , mencurahkan air mata hujan , hingga dunia mengetahui bahwa aku kamu hanya punya belaskasihan.

Kekasihku terbang dalam keindahan.

Bidadari bisadari wajahnya merah melihatmu iri.
Tak mengenal waktu, tidak akan lelah memandang aku dan kamu sampai rambut kita berubah.

Tidak ada kembang gading tak ada kembang tanjung dapat tumbuh dengan indah bila kita dalam cinta.

Air akan hilang kesegarannya apabila tiba di muarannya. Tapi cinta hidup selamanya.
Lihatlah sekarang, musim musim berganti aku tidak mengetahui persis hitungannya, 7 kali peredaran jagad raya mungkin.

Izinkan aku memetik kembang menurmu kekasihku,

Terkisah seorang pria memetik kembang menur dari wanita, tapi wanita tidak merasa taman hatinnya tercuri. Sebab dengan memetik kembang menurnya pria membunuh dirinya sebagai kumbang yang kehilangan sengatnya.

Bibir merahmu bukanlah kelopak bunga yang menantang asmara matahari pagi,  melainkan pelangi yang berisi aneka warna rahasia kehidupan.

Saat bertemunya waktu, sibaknya menuntunku melewati jalan jalan sempit sempit penuh duri.
Keajegkannya bawa kita melewati Padang Padang terang bulan,
Mengangkat ke puncak gunung kembar dimana berdiri pohon beringin kembar.

Menyeret masuk ke pondok yang hampir rubuh bila dilihat dari luar, tapi didalamnya megah semegah Balairung yang dihampari permadani dengan sulaman aneka bunga bungaan.

Cinta menemukan jalannya sendiri.

Tak ada angin sekuat badai, tak ada petang segelap malam.
Cinta mengalahkam segalannya.

Kau dengan amarahmu,
Gempa 7 kali.
Bumi bergoncang,
Air laut mendidih,
Dimana mana panas membakar bagaikan kawah gunung berapi.

Tanaman kering
Hewan hewan sudah mencari makan,
Burung diudara jatuh lingsut.
Tanah menganga.
Gunung gunung raksasa menggelar ngeri.

Lebih lebih kahyangan digedor para brekasakan yang terbit birit lari minta perlindungan. Bidadari tersungkur tangis tangisan. Jagad tercabik.


Kekasihku, kau menyanyi seperti burung perenjak pagi, merindukan tamu keabadian yang belum sempat datang.

Renjana akan tenang dan mempunyai wajah yang sama sekali baru bila engkau bisa mempertahankan pada keilahian budi yang wening.
Tapi akan seperti neraka bila tak sanggup mempertahankan budi.
Turunlah kedunia mencobai kita.
......

Byaaaarrrr.....


Kekasihku, Cantikmu tidada duannya, jelita .....
Matamu menjadi mata puspita dari bintang bintang yang menyala.
Bulan purnama kembar jatuh kedunia menjadi buah dadamu.
Jalanmu bagaikan kembang setaman yang melambai lambai.

Matamu kembali lagi indah sayangku,
Bagaikan mengerling indah dengan kondeku yang mengurai.
Baunya menyebar, bau putri harum seharum putri dewi matahari.

Kekasihku, kenapa kau bedaki pipimu dengan merah merah kembang api neraka....
Ikatlah kondemu supaya tetap menjadi kekasih hatimu sendiri.

Lunakkan suaramu, supaya tidak menyerupai makhluk jahat yang haus akan darah mu sendiri.

Mandilah aku dilautan darah karena menyusup ke dalam badan jasmaniku roh yang agung.
Tib tiba telapak kakiku menjadi belati belati kuda yang larinnya menutupi bumi.
Lentera hitam, aku meraba sukmamu yang gemerlapan intan berpendaran.

Kekasihku,  hiasilah dunia ini dengan percikan darahmu. Bunga Srigading menutup matannya karena duka.

Diluar Guntur kilat terus bersahut sahutan. Dunia menuju perubahan.

Malam paro bulan, 🌃
Gelap disana.
Tidak ada suatu apa disekitarnya.
Burung walik menghentikan tertawannya seperti nenek tua yang hampir mati.
Malam tak mau beranjak melewati malam, hening terus berteriak.
Melewati tangga tangga langit.

Rambutmu terurai di pelataran kembang kenangga.


Kekasihku,...

Kau baru saja melewati mimpi kenyataan bahwasannya dirimulah bunga deworetnoku.
Penuntun ku dikala aku tersesat dalam ruang labirin tanpa cahaya.
Aromamu menemukanku dengan segala keperkasaan yang menyeruap bagaikan tertawaan hewan hewan kegirangan.

Ini adalah malam kedua setelah pesta kita, kau kuajak kepelataran kembang kenanggaku.

Harummu mengalahkan adannya, kini tempat itu meretno, karena hadirmu.


Kekasihku,
Layak kau aku sandang sebagai kembang dewo retnoku..
....
Hutan belantara yang gelap sunyi hanya aku yang memasukinya dan memetikmu menurku.

Hanya aku, dan hadiah terindah itu akan aku perswmbahkan kepada bulan segaris yang meyeruap indah wadakmu.

Saat kita bersama, tak akan pernah mata memandang keindahan bunga setaman yang harumnya kalah merdu dengan bercak darah suara indah burung merpati yang kepakan sayapnya membunuh burung tandasih di ranting ranting mata yang melihatmu.

Kita berjalan bersama di gemerlapnya lampu sorot dengan karpet merah, hadiah perjumpaan kita.

Membangun padepokan,
Bangu massa setelah kita,
.




Berlarilah secepatmu kini,
Akan aku dahului engkau dengan ilmu yang sempat aku pelajari, mengikhlaskan...
Dan teranugerahi engkau sang menur yang saat ini berjanji untuk segera memperkenalkan diri.

Bersambung......
Bersambung.....



Pacitan, 7 Agustus 2021.

Menurku yang hanya kamu.




Senin, 02 Agustus 2021

PADEPOKAN LINGSIR DIWANGKORO


KEMBANG DEWORETNO

Lagi wae dik, mau awan aku nemu ilmu ikhlas.
Jebul aku urung lulus ale sinau.

Saiki aku ketemu pikir, ikhlas kui sajatine ajarane gusti opo malah kutukane kanggo wong sing sajatine ngoleki ikhlas ?

Wingi aku ikhlas marang sliramu,
Masio awakmu taunan ning Taiwan.
Masio awakmu megar ora konangan.
Masio lemahmu garing kebak suket bradatan.
Dik, aku ikhlas. . . .

Aku urip sengojo mung arep sinau ngilmu babakan ngonokui dik,
Sinau ilmu ajarane Gusti,
Tapi dadi kutukan molo petoko kanggo wong sing sengojo nyinau ngilmu kui. "Penampaku".

Sebab e,
Sakedep moto wae aku ketemu Padang,
banjur sakklebat ndasku koyo dibuntel kulit sono njur digandulne ono ning nduwure woh wohan tebu.
Tandane opo dik ?

Sakkuatku mbukak Lawang ngilmu kui, bakal ilmune soyo mengkurep mlebu jodang sing peteng banget.
Sak jembare alehku ngelar dowo duwure ambekanku,
Malah dadi watuk sing nyengrok gorokan.

Saiki pie ?
Udu molopetoko to?
Nanging malah dadi ukuman.
Aku diukum mergo aku ikhlas.

Opo aku kudu ora ikhlas ?
Sejatine ikhlas kui penampang pie ?

Nerimo,
Meneng wae,
Ngempet,
Opo kepie ?

Padepokan selot tuek.
Butuh ilmu ben tetep ngambang ora gigol,

Bersambung. . . . . . . . . . . . . . . .

Selasa, 27 Juli 2021

Jumat, 19 Februari 2021

DIMASTIKA

PUISIMU

Aku akan menulis puisi, nanti
Dikerling matamu
Sambil berlalu
Mengeja satu-persatu
Isyarat-isyarat tentang kesediaanmu
Menerima sgala gelisah tiada jemu

Dipadang ilalang itu
Saat kau menolak janjiku
Sebab kau tak ingin 
Aku menderita karenanya
Mulai ku tanami bunga mawar
Kupilih merah kesukaanmu

Jum,
Belum juga kutangkap bayanganmu
Diujung jalan yang sama
Saat aku melepaskanmu
Bersama tekadmu
Mendera menghajar nasib
Bersepeda tua
Berlalu berkelebat kain tudungmu
Melambai seraya berbisik seumpama
"Aku pasti kembali, menjemput puisimu!"
Sedangkan mawar merah berulang kali ranum

Ingin aku kirimkan puisi ini
Tapi kau ingin menjemputnya
Aku hanya bisa membacanya
Kesekian ratus rindu berlalu
Saat dingin merebah
Aku hanya bisa menimbun tabah.

10 Januari 2020




www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com