Sabtu, 12 Januari 2019

APLIKASI SAKTI MAHASISWA UNTUK MENGERJAKAN JURNAL "QUO VADIS GAWAI BAGI PESERTA DIDIK DI ERA DIGITAL"

 

Mendeley adalah

      Sebuah aplikasi desktop, web, dan mobile yang dgunakan untuk membuat daftar pustaka secara benar dan urut.Mendeley punya search untuk katalog versi onine lalu akan muncul dan langsung bisa di download.
Sync digunakan untuk mengsinkonkan antara pc dengan mobile. Setelah sudah dimasukan paper maka akan secara otomatis tersinkron.

      Mendeley jugadapat membuat grup seperti di media social, private group secara online.
“Citation” merupakan elemen penting dalam sebuah penulisan karya ilmiah. Seringkali penulis pemula, pelajar, mahasiswa dan masyarakat akademik pada umumnya, terjebak dalam tindakan plagiasi yang tidak disengaja karena kurang hati-hati dalam membuat sebuah sitasi. Oleh karenanya, keberadaan sebuah perangkat lunak yang berfungsi sebagai “citation & reference manager” adalah sebuah kebutuhan. Dengan perangkat lunak dimaksud, setiap penulis dapat mengidentifikasi kualitas dan keaslian setiap referensi yang digunakan. Di samping itu dengan “citation & reference manager”, penulis dapat mengolah dokumen referensi yang dimiliki, membuat pengelompokan berdasarkan topik/kategori tertentu, sekaligus me-retrieve metadata yang terdapat di dalam dokumen.
Mendeley adalah sebuah perangkat lunak yang kelahirannya diilhami oleh sebuah upaya untuk mengintegrasikan “citation & reference manager” ke dalam sebuah jejaring sosial. Dengan jejaring semacam ini, peneliti di berbagai belahan dunia dapat berkolaborasi dan melakukan sharing data penelitian.

      Perangkat lunak Mendeley saat ini tersedia dalam 2 (dua) versi, Desktop Edition dan Institutional Edition. Mendeley Desktop Edition (selanjutnya dalam panduan ini akan disebut Mendeley saja) adalah perangkat lunak “citation & reference manager” yang bisa didapatkan secara gratis (tidak berbayar) dan sangat kompatibel dengan program pengolah kata MS Word (2003,2007,2010), Mac Word (2008, 2011), Open Office/Libre Office (3.2), dan Bib Tex.
Beberapa fitur yang menjadi andalan Mendeley antara lain:
• Dapat berjalan pada MS Windows, Mac, ataupun Linux.
• Menampilkan metadata dari sebuah file PDF secara otomatis.
• Backup dan sinkronisasi data dari beberapa komputer dengan akun online.
• Smart filtering dan tagging.
• PDF viewer dengan kemampuan anotasi dan highlighting.
• Impor dokumen dan makalah penelitian dari situs-situs eksternal (misalnya PubMed, Google Scholar, arXiv, dll).
• Integrasi dengan berbagai perangkat lunak pengolah kata seperti MS Word, Open Office, dan Libre Office.

"
Pada dasarnya, Mendeley akan sangat memudahkan bagi mereka yang ingin membuat tulisan menjadi rapi dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai kemurniannya yang tanpa plagiasi.

Sangat disarankan kepada peserta didik yang ingin mengerjakan tugasnya, khususnya untuk Mahasiswa dengan tekanan dari dosen untuk membuat tugas tanpa plagiasi, rapi dan bermutu.

Aplikasi ini juga sangat direkomendasikan untuk para mahasiswa yang akan menghadapi skripsinya.


Berikut adalah contoh hasil pengerjaan tugas jurnal menggunakan aplikasi Mendeley  :




 QUO VADIS GAWAI BAGI PESERTA DIDIK DI ERA DIGITAL

Ulfa Maulia Rahmawati
1788201017
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
STKIP PGRI Pacitan
Email:
ulfamaulia1111@gmail.com

PENDAHULUAN

            Pada abad ke-21 masyarakat dihadapi oleh berbagai tantangan, salah satunya keterampilan menguasai teknologi informasi dan komunikasi. Terlebih dalampendidikan zaman nowyang erat kaitanya dengan generasi digital native. Generasi digital native merupakan generasi yanglahir di tengah teknologi yang berkembang pesat, mempunyai karakteristik suka bersosialiasi, mengekspresikan diri, berpikiran global, berkomunikasi secara digital dan menyukai hal-hal yang visual.[1]Gawai yang merupakan salah satu teknologi dan paling banyak digunakan dalam dunia pendidikan juga memberikan manfaat yang besar yaitu memudahkan urusan serta menawarkan pendidikan yang berkualitas dengan pembelajaran yang efektif dan efisien.

            Namun apa yang terjadi jika peserta didik tidak bisa mengendalikan diridalam menggunakan gawai, sehingga muncul dampak merugikan bagi diri sendiri maupun orang lain? Pasti hal itu akan menjadi problem dan tanggung jawab semua pihak, baik dari pihak sekolah maupun keluarga. Dalam konteks ini orang tua dan guru harus mampu berdiri di tengahdan melakukan tindakan preventifbagi peserta didik agar semua tetap terkendali. Untuk mendalami hal ini lebih jauh, makalah akan terfokus pada pembahasan,(1) Generasi Digital Nativesebagai pelaku pendidikan;(2)Peranan gawai di zaman nowyang menjadi penunjang pembelajaran;(3) serta pendampingan dialogis yang dilakukan oleh guru dan orang tua sebagai solusi dalam menyikapi penggunaan gawai oleh peserta didik.
Key word : Peserta didik, teknologi, gawai

PEMBAHASAN 

Generasi Digital Native
            Era globalisasi merupakan era dimana teknologi komunikasi merambah ke seluruh sendi kehidupan, baik yang berbentuk komunikasi seluler maupun komunikasi yang berbentuk cyber (dunia maya), hal ini menimbulkan shock (guncangan) berbagai khalayak.[2]Seperti halnya masyarakat yang saat ini tergila-gila dengan alat komunikasi berupa gawai.Menilik Kamus Besar Bahasa Indonesia, gawai merupakan peranti elektronik atau mekanik dengan fungsi praktis.[3] Hal ini dikuatkan oleh Yusmi Warisyah  yang mengatakan bahwa gawai bukan sekedar alat komunikasi, namun berkembang dengan dilengkapi fitur menarik seperti kamera, perekam video, peta digital, pemutar musik dan jaringan internet.[4]

            Menurut data Globalwebindex, pengguna gawai dalam bentuk ponsel pintar seluruh dunia mengalami peningkatan  dan jumlahnya sudah mencapai 3.4 milyar.[5] Indonesia misalnya, berdasarkan data statistik lembaga riset pemasaran digital perkiraan e-marketer, sejak tahun 2016 Indonesia sudah diprediksi masuk empat besar pengguna gawai terbesar di dunia, kemudian perkembangan terkini tahun 2018, pengguna ponsel pintar tersebut sudah dipakai lebih dari 100 juta orang.[6]
 
            Gawai yang disertai jaringan internetpun semakin digemari oleh kalangan masyarakat terutama usia remaja yang sedang menempuh pendidikan. Hal ini bedasarkan data Statistik Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2014, yang menunjukan mayoritas pengguna internet di Indonesia berusia 18-25 tahun, yaitu sebesar 49% dari total pengguna internet di Indonesia.[6]
            Lebih lanjut Krisnawati menjelaskan penggunaan gawai oleh generasi digital nativeinidiperkuat dengan menggunakan teori Uses  and Gratifications yaitu bahwa media dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang semakin kompleks dengan alasan sebagai berikut:[6]

Tabel Kebutuhan bedasarkan teori Uses and Gratifications
Kebutuhan Kognitif
Kebutuhan tentang informasi untuk menguasai lingkungan serta memenuhi rasa penasaran
Kebutuhan
Afektif
Kebutuhan tentang estetika, pengalaman, dan kesenangan emosional
Kebutuhan Integrasi Pribadi
Kebutuhan tentang keyakinan atau kepercayaan serta stabilitas status individu
Kebutuhan Integrasi Sosial
Kebutuhan tentang jalinan komunikasi teman dan dunia luar
Kebutuhan Pelarian
Kebutuhan tentang keinginan lari dari stress atau tekanan, kondisi tegang, emosi, kesepian sehingga membutuhkan hiburan

            Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa kebutuhan juga dapat berkembang, dan bisa jadi kebutuhan zaman sekarang berbeda dengan kebutuhan zaman dahulu. Derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi menjadi pemicu utama munculnya kebutuhan tersebut dan menjadi tuntutan di era digital native. 

            Pesatnya penggunaan gawai memang menjadi hal lumrah, apalagi gawai menawarkan sejumlah manfaat yang membuat aktivitas manusia semakin efektif dan efisien. Seperti halnya dikemukakan oleh Puji Asmaul Husna, ada tiga manfaat gawai sebagai berikut:[7]
(1)   Media komunikasi. Zaman yang semakin maju membuka jalan pintas untuk berkomunikasi dengan mudah dan cepat. Komunikasi tersebut bisa dilakukan lewat pesawat telepon, aplikasi percakapan misalnya Whatsapp, Google Duo dan aplikasi canggih lainnya. Hal ini memudahkan orang untuk menghemat waktu dan tentu batasan ruang dan waktu tidak menjadi kendala.
(2)   Sarana sosial. Bukan rahasia umum lagi gawai menyediakan media sosial, dimana penggunanya dapat menjalin pertemanan tanpa ada batasan usia bahkan wilayah, seperti aplikasi Facebook, Instagram, Twitter dan sebagainya. Hal ini marak digunakan oleh berbagai khalayak, terutama remaja yang ingin mengeksplor dirinya lewat media sosial serta mendapat pengakuan sosial. Bahkan media sosial saat ini juga dapat dijadikan alat untuk berbagai kepentingan, seperti kebutuhan jual beli secara online, promosi dan penyebaran informasi.
(3)   Sarana pendidikan. Gawai memegang peranan penting dalam dunia pendidikan, seperti menyediakan fasilitas search engineatau mesin pencari yang digunakan untuk memperdalam materi pembelajaran atau mencari informasi yang belum terdapat di buku. Hal tersebut akan memudahkan peserta didik menemukan hal-hal baru yang bermanfaat tanpa repot mengakses perpustakaan yang mungkin sulit dijangkau.

            Adanya teknologi canggih gawai tentu memberikan pengaruh yang besar terhadap dunia pendidikan. Peserta didik merupakan salah satu pelaku pendidikan yang ikut merasakan kemudahan penggunaan gawai. Dalam pembelajaran peserta didik juga merupakan subjek dan objek utama,  sehingga sehebat apapun metode pembelajaran yang digunakan apabila tidak ada peserta didik, maka pendidikan itu dianggap gagal.[8]Seperti dizaman now ini, kelas yang digunakan peserta didik tidak lagi dibatasi dengan duduk di kursi dan mendengarkan ceramah dari guru, namun kelas di era milenial akan bergeser menjadi kelas virtual yang mengandalkan piranti canggih dalam pelaksanaanya.

Peranan gawai di Zaman Now
            Melihat realita sosial, bukan pemandangan yang aneh lagi jika peserta didik sekarang diperbolehkan membawa gawai di lingkungan sekolah. Mulai dari jenjang pendidikan menengah pertama sampai sekolah menengah ke atas, tak jarang pula gawai juga terlihat ada digenggaman anak usia sekolah dasar. Dengan alasan untuk menunjang kegiatan pembelajaran, maka gawai menjadi salah satu alternatif untuk mempermudah memahami materi. Seharusnya hal ini menjadi kesepakatan bersama antara pihak sekolah, orang tua dan masyarakat dengan mempertimbangkan apakah gawai tersebut mampu menunjang pembelajaran atau malah sebaliknya.

            Hal ini sesuai dengan kecenderungan pendidikan di Indonesia dimasa mendatang yang dikemukakan oleh Hamzah B. Uno dan Nina Lamatenggo yaitu:(1)Pendidikan terbuka dengan model belajar jarak jauh (distance learing). Kemudian untuk menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh perlu dimasukkan sebagai strategi utama; (2)Shareng resource bersama antar lembaga pendidikan/latihan dalam sebuag jaringan perpustakaan dan istrumen pendidikan lainnya (guru, laboraturiom) berubah fungsi menjadi sumber informasi daripada sekedar rak buku; (3)Penggunaan perangkat teknologi informasi interaktif, seperti CD-ROM multi media dalam pendidikan secara bertahap menggantuikan televisi dan video.[9]

            Kecenderungan pendidikan tersebut mulai terlihat dengan adanya teknologi yang semakin merambah luas. Menurut Sutarman pembelajaran juga dapat memanfaatkan media yang semakin canggih sebagai sumber belajar berbasis multimedia seperti internet, tidak lagi hanya terpaku dalam pembelajaran konvesional yang mengandalkan buku paket dan perpustakaan.[10]Hal ini dikarena perkembangan informasi semakin berlari dan sebagai peserta didik harus bisa mendapatkannya dengan up-to date menggunakan gawai. Chandra Anugrah Putra sependapat dengan menyebutkan fungsi gawai sebagai media pembelajaranyaitu:[11]

            Pertama, gawai dimanfaatkan sebagai sumber tambahan dalam pembelajaran. Seringkali dalam memperdalam materi, peserta didik kekurangan informasi yang terkait dengan materi tersebut. Dalam hal ini gawai dapat dimanfaatkan untuk mengakses web-web yang menyediakan informasi tersebut tanpa harus kesulitan menemukan diperpustakaan yang mungkin membutuhkan waktu agak lama.

            Kedua, gawai sebagai penunjang kegiatan pembelajaran. Salah satu fitur gawai yang dapat dihandalkan yaitu search engine. Dengan demikian peserta didik dengan mudah mencari tugas di internet dan menjadi peserta didik yang aktif, bukan hanya sebagai pengguna media sosial namun aktif membaca literasi digital.

            Ketiga, gawai sebagai alternatif pendukung pembelajaran. Hal ini memudahkan apabila guru tidak dalam tempat yang sama, peserta didik dapat mengunduh modul pembelajaran dan mengerjakan tugas yang kemudian dikirim melalui surat elektronik atau email, tentu hal ini menjadikan pekerjaan tetap berjalan efisien dan menghemat waktu.

            Selain manfaat tersebut, penggunaan gawai juga dapat digunakan  untuk media pembelajaran online yaitu E-learning. Sistem ini dikembangkan secara komprehensif dan dilengkapi teknologi kecepatan tranfer metadata yang mengubah pembelajaran tidak mengenal batas ruang dan waktu.[12]Defini lain e-learning merujuk kepada kelar virtual yaitu lingkungan belajar yang berbasis web: (1) memanfaatkan kecanggihan teknologi khususnya jejaring pembelajaran sosial (sosial learning network), (2) memuat beragam konten digital yang dapat digunakan untuk menunjang proses pembelajaran, dilakukan dimana saja, dan dapat dipantau oleh guru, siswa dan orang tua. Aplikasi kelas virtual yang banyak digunakan misalnya classroom, class dojo, edmodo, kelase dan lainnya [13]. Dari manfaat-manfaat tersebut munculah fenomena mediatisasi pembelajaran yang berarti di mana media memberikan pengaruh besar, dan aktivitas pembelajaran bukan sekadar memanfaatkan media akan tetapi lebih dari itu mengikuti logika media. [14]

            Gawai yang dilengkapi internet juga menawarkan kesempatan kepada peserta didik untuk mendapatkan manfaat dari internet antara lain belajar dapat dilakukan dengan cepat dengan tujuan meningkatkan pengetahuan, menjalin interaksi, dan mengembangkan kemampuan diri, internet juga memperkaya diri dengan menciptakan komunikasi dengan peserta didik yang lain, serta belajar menanggapi permasalahan yang ada di sudut dunia.[15]Dalam artian peserta didik dapat menjelajahi segala hal bukan hanya dalam lingkup sekolah melainkan sudah dalam lingkup dunia.

Pendampingan Dialogis Guru dan Orang Tua: Solusi Alternatif
            Menghadapi kemajuangawai yang begitu pesat, perlu adanya tindakan penyegahan yang dilakukan oleh guru dan orang tua. Hal ini dikarenakan tidak selamanya penggunaan gawaimembawa dampak positif bagi kehidupan , bisa jadi manfaat  tersebut menjadi boomerang apabila tidak digunakan secara bijak.. Dampak negatif ini bisa berdampak kerugian diri sendiri maupun orang lain. Menurut Suwarsi, beberapa perilaku anak terkait gawai yang harus diwaspadai baik guru maupun orang tua yaitu[7]:

(1)   Anak kehilangan minat beraktivitas karena larut dalam dunia gawai dan terjebak dalam dunia virtual
(2)   Anak cenderung tidak tertarik untuk bermain dengan teman sebayanya sehingga menjadikan diri yang bersifat individualis dan terganggu hubungan dengan lingkungan sekitar
(3)   Sikap tempramen atau mudah marah, apabila penggunaan gawai dibatasi
(4)   Sikap yang berkembang menjadi berani berbohong atau mencuri demi bermain game yang terdapat digawai

            Hal ini bukan masalah yang sederhana. Kecanduan gawai bagi peserta didik akan mempengaruhi perkembangan fisik, mental dan intelektual. Pengaruh yang paling besar dan dampak dilihat yaitu masalah hubungan interaksi sosial anak dengan lingkungan. Interaksi sosial merupakan hubungan individu, hubungan individu atau hubungan kelompok dengan kelompok. Hal ini erat kaitannya dengan hubungan peserta didik dengan masyarakat.[16]Anak menjadi tidak peduli dengan apa yang terjadi dilingkungan bahkan memunculkan sikap acuh tak acuh.

            Kemudian peserta didik akan malas memecahkan masalah dan lebih menggantungkan jawaban dari mesin pencari yang terdapat di gawai, padahal informasi dalam gawai sendiri belum tentu kebenarannya. Jejaring media sosial yang menayangkan beragam informasi menarik membuat peserta didik melupakan kewajibannya belajar dengan dalih belajar melalui gawai dan hal ini muncul sebagai masalah pemanfaatan waktu yang kurang baik oleh peserta didik.

            Tindakan yang harus diambil baik guru maupun orang tua yaitu melakukan pendampingan dialogis atau pendampingan secara berkelanjutan, hal ini menjadi solusi alternatif yang bisa dilakukan guru dan orang tua dalam pengawasan serta pencegahan dengan cara sebagai berikut(1) Menanamkan nilai agama dalam setiap tingkah laku anak; (2)Memberikan edukasi terhadap anak tentang penggunaan gawai dan menganjurkan anak mengoperasikan gawai di ruangan terbuka bukan dikamar; (3) Mengajari anak mengelola waktu (time line management) dengan seperti itu anak tidak membuang waktunya untuk bermain gawai dan mengakses hal yang tidak perlu; (4)Memberikan peraturan tegas terkait penggunaan gawai di lingkungan sekolah; (5)Kerjasama yang baik antara guru dan orang tua dalam menyikapi penggunaan gawai.[17]

            Pendampingan dialogis dan edukasi yang baik akan membantu peserta didik mengendalikan diri dari dunia maya yang berbahaya, karena pada usia tersebut peserta didik berusaha mencari jatidiri dan gampang terpengaruh. Manfaat teknologi memang begitu besar dan membantu dalam sendi kehidupan khususnya pendidikan, maka hal ini harus menjadi perhatian bersama, baik peserta didik, guru dan orang tua dalam mengimbanginya dengan menggunakan gawai secara bijak agar semua tetap terkendali dan menguntungkan bagai pengguna dan memberikan kontribusi bagi negara bahkan dunia. 
SIMPULAN
            Perkembangan teknologi yang luar biasa dengan ditunjukan peningkatan secara pesat  pengguna gawai dan internet. Mayoritas pengguna gawai terdapat di usia remaja atau usia dimana anak sedang menepuh pendidikan. Teknologi yang masuk di dunia pendidikan tentu membantu banyak dalam menghadapi turbulensi pendidikan. Misalnya gawai dapat dijadikan media pembelajaran sampai berkembang menjadi kelas virtual yang menggiring anak menjadi generasi digital native yang berkualitas,  hal ini akan menjadi trobosan pendidikan agar tidak monoton dan berkembang seperti pendidikan di negara maju. Karena pendidikan yang baik akan berpengaruh terhadap baik buruknya suatu negara. Dari hal tersebut guru dan orang tua juga harus bersikap bijak dalam penggunaan gawai agar anak tidak terjerumus dalam hal yang salah.

SARAN
            Gawai yang akrab dengan kehidupan sehari-hari semestinya harus diwaspadai oleh peserta didik, guru dan orang tua. Sebagai pengguna teknologi ini harus mampu membuka mata dan melihat dari sisi yang berbeda bukan hanya sisi terangnya saja namun sisi gelapnya. Guru dan orang tua pun hendaknya bekerja sama untuk mengawasi putra-putrinya yang menggunakan gawai setiap hari dengan melakukan pendampingan secara berkelanjutan, dan bagi peserta didik harus membedakan mana konten yang positif maupun negatif, dengan begitu gawai bisa dijadikan teman yang mempermudah urusan bukan menjerumuskan.


DAFTAR PUSTAKA
[1]      T. Suganda, “Pengelolaan Pembelajaran Zaman Now ( Generasi Z ),” no. February, 2018.
[2]      M. M. Choiri, “Quo Vadis Pendidikan Multikultural dalam Era Global di Pesantren.”
[3]      Kamus Besar Bahasa Indonesia. .
[4]      Y. Warisyah, “Pentingnya ‘Pendampingan Dialogis’ Orang Tua dalam Penggunaan Gadget pada Anak Usia Dini,” vol. 2016, no. November 2015, 2016.
[5]      S. Chalim, “Jurnal Penyuluhan, Maret 2018 Vol. 14 No. 1 Peran Orangtua dan Guru dalam Membangun Internet sebagai Sumber Pembelajaran,” vol. 14, no. 1, 2018.
[6]      E. Krisnawati, “Pola Penggunaan Internet Oleh Kalangan Remaja Di Kabupaten Semarang,” pp. 319–350.
[7]      P. A. Chusna, “Pengaruh Media Gadget Pada Perkembangan Karakter Anak,” pp. 315–330.
[8]      Mukodi, “Tela’ah Filosofis Arti Pendidikan dan Faktor-faktor pendidikan dalam ilmu pendidikan,” vol. 10, no. 3, 2018.
[9]      H. Budiman, “Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan,” vol. 8, pp. 75–83, 2017.
[10]    Muhasim, “Pengaruh Tehnologi Digital , Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik,” vol. 5, no. November, pp. 53–77, 2017.
[11]    C. A. P. Putra, “Pemanfaatan Teknologi Gadget Sebagai Media Pembelajaran.”
[12]    R. D. Laksono, “Manfaat Gadget Dalam E-Learning Di Lingkungan Sekolah,” no. June, 2018.
[13]    V. V. Saudin, “Pemgembangan Kelas Virtual Dengan LMS KELASE untuk Rumus Jumlah dan Selisih Dua Sudut,” pp. 562–568, 2016.
[14]    Karakteristik Guru dan Siswa Abad 21 Capaian Pembelajaran. .
[15]    R. Setiyani, “Pemanfaatan internet sebagai sumber belajar,” vol. V, no. 2, pp. 117–133, 2010.
[16]    W. Novitasari and Nurul Khotimah, “Dampak Penggunaan Gadget Terhadap Interaksi Sosial Anak Usia 5-6 Tahun,” 2013.
[17]    Febrino, “Tindakan Preventif Pengaruh Negatif Gadget Terhadap Anak,” vol. 1, no. 1, pp. 1–21.

0 komentar:

Posting Komentar

www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com