
Mendeley adalah
Sebuah aplikasi desktop, web, dan mobile yang dgunakan untuk membuat daftar pustaka secara benar dan urut.Mendeley punya search untuk katalog versi onine lalu akan muncul dan langsung bisa di download.
Sync digunakan untuk mengsinkonkan antara pc dengan mobile. Setelah sudah dimasukan paper maka akan secara otomatis tersinkron.
Mendeley jugadapat membuat grup seperti di media social, private group secara online.
“Citation” merupakan elemen penting dalam sebuah penulisan karya ilmiah. Seringkali penulis pemula, pelajar, mahasiswa dan masyarakat akademik pada umumnya, terjebak dalam tindakan plagiasi yang tidak disengaja karena kurang hati-hati dalam membuat sebuah sitasi. Oleh karenanya, keberadaan sebuah perangkat lunak yang berfungsi sebagai “citation & reference manager” adalah sebuah kebutuhan. Dengan perangkat lunak dimaksud, setiap penulis dapat mengidentifikasi kualitas dan keaslian setiap referensi yang digunakan. Di samping itu dengan “citation & reference manager”, penulis dapat mengolah dokumen referensi yang dimiliki, membuat pengelompokan berdasarkan topik/kategori tertentu, sekaligus me-retrieve metadata yang terdapat di dalam dokumen.
Mendeley adalah sebuah perangkat lunak yang kelahirannya diilhami oleh sebuah upaya untuk mengintegrasikan “citation & reference manager” ke dalam sebuah jejaring sosial. Dengan jejaring semacam ini, peneliti di berbagai belahan dunia dapat berkolaborasi dan melakukan sharing data penelitian.
Perangkat lunak Mendeley saat ini tersedia dalam 2 (dua) versi, Desktop Edition dan Institutional Edition. Mendeley Desktop Edition (selanjutnya dalam panduan ini akan disebut Mendeley saja) adalah perangkat lunak “citation & reference manager” yang bisa didapatkan secara gratis (tidak berbayar) dan sangat kompatibel dengan program pengolah kata MS Word (2003,2007,2010), Mac Word (2008, 2011), Open Office/Libre Office (3.2), dan Bib Tex.
Beberapa fitur yang menjadi andalan Mendeley antara lain:
• Dapat berjalan pada MS Windows, Mac, ataupun Linux.
• Menampilkan metadata dari sebuah file PDF secara otomatis.
• Backup dan sinkronisasi data dari beberapa komputer dengan akun online.
• Smart filtering dan tagging.
• PDF viewer dengan kemampuan anotasi dan highlighting.
• Impor dokumen dan makalah penelitian dari situs-situs eksternal (misalnya PubMed, Google Scholar, arXiv, dll).
• Integrasi dengan berbagai perangkat lunak pengolah kata seperti MS Word, Open Office, dan Libre Office.
"
Pada
dasarnya, Mendeley akan sangat memudahkan bagi mereka yang ingin
membuat tulisan menjadi rapi dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai
kemurniannya yang tanpa plagiasi.
Aplikasi ini juga sangat direkomendasikan untuk para mahasiswa yang akan menghadapi skripsinya.
Berikut adalah contoh hasil pengerjaan tugas jurnal menggunakan aplikasi Mendeley :
QUO VADIS GAWAI BAGI PESERTA DIDIK DI ERA DIGITAL
Ulfa
Maulia Rahmawati
1788201017
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
STKIP PGRI Pacitan
Email: ulfamaulia1111@gmail.com
1788201017
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
STKIP PGRI Pacitan
Email: ulfamaulia1111@gmail.com
PENDAHULUAN
Pada
abad ke-21 masyarakat dihadapi oleh berbagai tantangan, salah satunya
keterampilan menguasai teknologi informasi dan komunikasi. Terlebih dalampendidikan
zaman nowyang erat kaitanya dengan
generasi digital native. Generasi digital native merupakan generasi yanglahir
di tengah teknologi yang berkembang pesat, mempunyai karakteristik suka
bersosialiasi, mengekspresikan diri, berpikiran global, berkomunikasi secara
digital dan menyukai hal-hal yang visual.[1]Gawai
yang merupakan salah satu teknologi dan paling banyak digunakan dalam dunia
pendidikan juga memberikan manfaat yang besar yaitu memudahkan urusan serta
menawarkan pendidikan yang berkualitas dengan pembelajaran yang efektif dan
efisien.
Namun apa yang terjadi jika peserta
didik tidak bisa mengendalikan diridalam menggunakan gawai, sehingga muncul
dampak merugikan bagi diri sendiri maupun orang lain? Pasti hal itu akan
menjadi problem dan tanggung jawab
semua pihak, baik dari pihak sekolah maupun keluarga. Dalam konteks ini orang
tua dan guru harus mampu berdiri di tengahdan melakukan tindakan preventifbagi
peserta didik agar semua tetap terkendali. Untuk mendalami hal ini lebih jauh, makalah
akan terfokus pada pembahasan,(1) Generasi Digital
Nativesebagai pelaku pendidikan;(2)Peranan gawai di zaman nowyang menjadi penunjang pembelajaran;(3) serta pendampingan dialogis yang
dilakukan oleh guru dan orang tua sebagai solusi dalam menyikapi penggunaan
gawai oleh peserta didik.
Key word :
Peserta didik, teknologi, gawai
PEMBAHASAN
Generasi Digital
Native
Era globalisasi merupakan era dimana
teknologi komunikasi merambah ke seluruh sendi kehidupan, baik yang berbentuk
komunikasi seluler maupun komunikasi yang berbentuk cyber (dunia maya), hal ini menimbulkan shock (guncangan) berbagai khalayak.[2]Seperti
halnya masyarakat yang saat ini tergila-gila dengan alat komunikasi berupa gawai.Menilik
Kamus Besar Bahasa Indonesia, gawai merupakan peranti elektronik atau mekanik
dengan fungsi praktis.[3] Hal
ini dikuatkan oleh Yusmi Warisyah yang
mengatakan bahwa gawai bukan sekedar alat komunikasi, namun berkembang dengan
dilengkapi fitur menarik seperti kamera, perekam video, peta digital, pemutar
musik dan jaringan internet.[4]
Menurut data Globalwebindex,
pengguna gawai dalam bentuk ponsel pintar seluruh dunia mengalami peningkatan dan jumlahnya sudah mencapai 3.4 milyar.[5]
Indonesia misalnya, berdasarkan data statistik lembaga riset pemasaran digital
perkiraan e-marketer, sejak tahun 2016 Indonesia sudah diprediksi masuk empat
besar pengguna gawai terbesar di dunia, kemudian perkembangan terkini tahun
2018, pengguna ponsel pintar tersebut sudah dipakai lebih dari 100 juta orang.[6]
Gawai yang disertai jaringan
internetpun semakin digemari oleh kalangan masyarakat terutama usia remaja yang
sedang menempuh pendidikan. Hal ini bedasarkan data Statistik Asosiasi
Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2014, yang menunjukan mayoritas
pengguna internet di Indonesia berusia 18-25 tahun, yaitu sebesar 49% dari
total pengguna internet di Indonesia.[6]
Lebih lanjut Krisnawati menjelaskan penggunaan
gawai oleh generasi digital nativeinidiperkuat
dengan menggunakan teori Uses and Gratifications yaitu bahwa media
dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang semakin kompleks dengan alasan
sebagai berikut:[6]
Tabel Kebutuhan bedasarkan teori Uses and Gratifications
Kebutuhan Kognitif
|
Kebutuhan
tentang informasi untuk menguasai lingkungan serta memenuhi rasa penasaran
|
Kebutuhan
Afektif
|
Kebutuhan
tentang estetika, pengalaman, dan kesenangan emosional
|
Kebutuhan Integrasi Pribadi
|
Kebutuhan
tentang keyakinan atau kepercayaan serta stabilitas status individu
|
Kebutuhan Integrasi Sosial
|
Kebutuhan
tentang jalinan komunikasi teman dan dunia luar
|
Kebutuhan Pelarian
|
Kebutuhan
tentang keinginan lari dari stress atau
tekanan, kondisi tegang, emosi, kesepian sehingga membutuhkan hiburan
|
Dari tabel diatas, dapat diketahui
bahwa kebutuhan juga dapat berkembang, dan bisa jadi kebutuhan zaman sekarang
berbeda dengan kebutuhan zaman dahulu. Derasnya
arus globalisasi dan perkembangan teknologi menjadi pemicu utama munculnya
kebutuhan tersebut dan menjadi tuntutan di era digital native.
Pesatnya penggunaan gawai memang
menjadi hal lumrah, apalagi gawai menawarkan sejumlah manfaat yang membuat
aktivitas manusia semakin efektif dan efisien. Seperti halnya dikemukakan oleh
Puji Asmaul Husna, ada tiga manfaat gawai sebagai berikut:[7]
(1) Media komunikasi.
Zaman yang semakin maju membuka jalan pintas untuk berkomunikasi dengan mudah
dan cepat. Komunikasi tersebut bisa dilakukan lewat pesawat telepon, aplikasi
percakapan misalnya Whatsapp, Google Duo
dan aplikasi canggih lainnya. Hal ini memudahkan orang untuk menghemat waktu
dan tentu batasan ruang dan waktu tidak menjadi kendala.
(2) Sarana sosial.
Bukan rahasia umum lagi gawai menyediakan media sosial, dimana penggunanya
dapat menjalin pertemanan tanpa ada batasan usia bahkan wilayah, seperti
aplikasi Facebook, Instagram, Twitter dan
sebagainya. Hal ini marak digunakan oleh berbagai khalayak, terutama remaja
yang ingin mengeksplor dirinya lewat media sosial serta mendapat pengakuan
sosial. Bahkan media sosial saat ini juga dapat dijadikan alat untuk berbagai
kepentingan, seperti kebutuhan jual beli secara online, promosi dan penyebaran
informasi.
(3)
Sarana
pendidikan. Gawai memegang peranan penting dalam
dunia pendidikan, seperti menyediakan fasilitas search engineatau mesin pencari yang digunakan untuk memperdalam
materi pembelajaran atau mencari informasi yang belum terdapat di buku. Hal
tersebut akan memudahkan peserta didik menemukan hal-hal baru yang bermanfaat
tanpa repot mengakses perpustakaan yang mungkin sulit dijangkau.
Adanya teknologi canggih gawai tentu
memberikan pengaruh yang besar terhadap dunia pendidikan. Peserta didik
merupakan salah satu pelaku pendidikan yang ikut merasakan kemudahan penggunaan
gawai. Dalam pembelajaran peserta didik juga merupakan subjek dan objek
utama, sehingga sehebat apapun metode
pembelajaran yang digunakan apabila tidak ada peserta didik, maka pendidikan
itu dianggap gagal.[8]Seperti
dizaman now ini, kelas yang digunakan
peserta didik tidak lagi dibatasi dengan duduk di kursi dan mendengarkan
ceramah dari guru, namun kelas di era milenial akan bergeser menjadi kelas virtual
yang mengandalkan piranti canggih dalam pelaksanaanya.
Peranan gawai di Zaman Now
Melihat realita sosial, bukan
pemandangan yang aneh lagi jika peserta didik sekarang diperbolehkan membawa
gawai di lingkungan sekolah. Mulai dari jenjang pendidikan menengah pertama
sampai sekolah menengah ke atas, tak jarang pula gawai juga terlihat ada
digenggaman anak usia sekolah dasar. Dengan alasan untuk menunjang kegiatan
pembelajaran, maka gawai menjadi salah satu alternatif untuk mempermudah
memahami materi. Seharusnya hal ini menjadi kesepakatan bersama antara pihak
sekolah, orang tua dan masyarakat dengan mempertimbangkan apakah gawai tersebut
mampu menunjang pembelajaran atau malah sebaliknya.
Hal
ini sesuai dengan kecenderungan pendidikan di Indonesia dimasa mendatang yang
dikemukakan oleh Hamzah B. Uno dan Nina Lamatenggo yaitu:(1)Pendidikan terbuka
dengan model belajar jarak jauh (distance learing). Kemudian untuk
menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh perlu dimasukkan sebagai
strategi utama; (2)Shareng resource bersama antar lembaga
pendidikan/latihan dalam sebuag jaringan perpustakaan dan istrumen pendidikan
lainnya (guru, laboraturiom) berubah fungsi menjadi sumber informasi daripada
sekedar rak buku; (3)Penggunaan perangkat teknologi informasi interaktif,
seperti CD-ROM multi media dalam pendidikan secara bertahap menggantuikan
televisi dan video.[9]
Kecenderungan pendidikan tersebut
mulai terlihat dengan adanya teknologi yang semakin merambah luas. Menurut
Sutarman pembelajaran juga dapat memanfaatkan media yang semakin canggih
sebagai sumber belajar berbasis multimedia seperti internet, tidak lagi hanya
terpaku dalam pembelajaran konvesional yang mengandalkan buku paket dan perpustakaan.[10]Hal ini
dikarena perkembangan informasi semakin berlari dan sebagai peserta didik harus
bisa mendapatkannya dengan up-to date menggunakan
gawai. Chandra Anugrah Putra sependapat dengan menyebutkan fungsi gawai sebagai
media pembelajaranyaitu:[11]
Pertama, gawai
dimanfaatkan sebagai sumber tambahan dalam pembelajaran. Seringkali dalam
memperdalam materi, peserta didik kekurangan informasi yang terkait dengan
materi tersebut. Dalam hal ini gawai dapat dimanfaatkan untuk mengakses web-web
yang menyediakan informasi tersebut tanpa harus kesulitan menemukan diperpustakaan
yang mungkin membutuhkan waktu agak lama.
Kedua, gawai
sebagai penunjang kegiatan pembelajaran. Salah satu fitur gawai yang dapat
dihandalkan yaitu search engine.
Dengan demikian peserta didik dengan mudah mencari tugas di internet dan
menjadi peserta didik yang aktif, bukan hanya sebagai pengguna media sosial
namun aktif membaca literasi digital.
Ketiga, gawai
sebagai alternatif pendukung pembelajaran. Hal ini memudahkan apabila guru
tidak dalam tempat yang sama, peserta didik dapat mengunduh modul pembelajaran
dan mengerjakan tugas yang kemudian dikirim melalui surat elektronik atau email, tentu hal ini menjadikan
pekerjaan tetap berjalan efisien dan menghemat waktu.
Selain manfaat tersebut, penggunaan
gawai juga dapat digunakan untuk media
pembelajaran online yaitu E-learning. Sistem
ini dikembangkan secara komprehensif dan dilengkapi teknologi kecepatan tranfer
metadata yang mengubah pembelajaran tidak mengenal batas ruang dan waktu.[12]Defini
lain e-learning merujuk kepada kelar
virtual yaitu lingkungan belajar yang berbasis web: (1) memanfaatkan
kecanggihan teknologi khususnya jejaring pembelajaran sosial (sosial learning network), (2) memuat
beragam konten digital yang dapat digunakan untuk menunjang proses
pembelajaran, dilakukan dimana saja, dan dapat dipantau oleh guru, siswa dan
orang tua. Aplikasi kelas virtual yang banyak digunakan misalnya classroom, class dojo, edmodo, kelase dan
lainnya [13]. Dari
manfaat-manfaat tersebut munculah fenomena mediatisasi pembelajaran yang
berarti di mana media memberikan pengaruh besar, dan aktivitas pembelajaran
bukan sekadar memanfaatkan media akan tetapi lebih dari itu mengikuti logika
media. [14]
Gawai yang dilengkapi internet juga menawarkan
kesempatan kepada peserta didik untuk mendapatkan manfaat dari internet antara
lain belajar dapat dilakukan dengan cepat dengan tujuan meningkatkan
pengetahuan, menjalin interaksi, dan mengembangkan kemampuan diri, internet
juga memperkaya diri dengan menciptakan komunikasi dengan peserta didik yang
lain, serta belajar menanggapi permasalahan yang ada di sudut dunia.[15]Dalam
artian peserta didik dapat menjelajahi segala hal bukan hanya dalam lingkup
sekolah melainkan sudah dalam lingkup dunia.
Pendampingan Dialogis Guru dan
Orang Tua: Solusi Alternatif
Menghadapi kemajuangawai yang begitu
pesat, perlu adanya tindakan penyegahan yang dilakukan oleh guru dan orang tua.
Hal ini dikarenakan tidak selamanya penggunaan gawaimembawa dampak positif bagi
kehidupan , bisa jadi manfaat tersebut
menjadi boomerang apabila tidak digunakan secara bijak.. Dampak negatif ini
bisa berdampak kerugian diri sendiri maupun orang lain. Menurut Suwarsi,
beberapa perilaku anak terkait gawai yang harus diwaspadai baik guru maupun
orang tua yaitu[7]:
(1) Anak
kehilangan minat beraktivitas karena larut dalam dunia gawai dan terjebak dalam
dunia virtual
(2) Anak
cenderung tidak tertarik untuk bermain dengan teman sebayanya sehingga
menjadikan diri yang bersifat individualis dan terganggu hubungan dengan
lingkungan sekitar
(3) Sikap
tempramen atau mudah marah, apabila penggunaan gawai dibatasi
(4) Sikap
yang berkembang menjadi berani berbohong atau mencuri demi bermain game yang terdapat digawai
Hal ini bukan masalah yang
sederhana. Kecanduan gawai bagi peserta didik akan mempengaruhi perkembangan fisik,
mental dan intelektual. Pengaruh yang paling besar dan dampak dilihat yaitu
masalah hubungan interaksi sosial anak dengan lingkungan. Interaksi sosial
merupakan hubungan individu, hubungan individu atau hubungan kelompok dengan
kelompok. Hal ini erat kaitannya dengan hubungan peserta didik dengan
masyarakat.[16]Anak
menjadi tidak peduli dengan apa yang terjadi dilingkungan bahkan memunculkan
sikap acuh tak acuh.
Kemudian peserta didik akan malas
memecahkan masalah dan lebih menggantungkan jawaban dari mesin pencari yang
terdapat di gawai, padahal informasi dalam gawai sendiri belum tentu
kebenarannya. Jejaring media sosial yang menayangkan beragam informasi menarik
membuat peserta didik melupakan kewajibannya belajar dengan dalih belajar
melalui gawai dan hal ini muncul sebagai masalah pemanfaatan waktu yang kurang
baik oleh peserta didik.
Tindakan yang harus diambil baik
guru maupun orang tua yaitu melakukan pendampingan dialogis atau pendampingan
secara berkelanjutan, hal ini menjadi solusi alternatif yang bisa dilakukan
guru dan orang tua dalam pengawasan serta pencegahan dengan cara sebagai
berikut(1) Menanamkan nilai agama dalam setiap tingkah laku anak; (2)Memberikan
edukasi terhadap anak tentang penggunaan gawai dan menganjurkan anak
mengoperasikan gawai di ruangan terbuka bukan dikamar; (3) Mengajari anak
mengelola waktu (time line management)
dengan seperti itu anak tidak membuang waktunya untuk bermain gawai dan
mengakses hal yang tidak perlu; (4)Memberikan peraturan tegas terkait penggunaan
gawai di lingkungan sekolah; (5)Kerjasama yang baik antara guru dan orang tua
dalam menyikapi penggunaan gawai.[17]
Pendampingan dialogis dan edukasi
yang baik akan membantu peserta didik mengendalikan diri dari dunia maya yang
berbahaya, karena pada usia tersebut peserta didik berusaha mencari jatidiri
dan gampang terpengaruh. Manfaat teknologi memang begitu besar dan membantu
dalam sendi kehidupan khususnya pendidikan, maka hal ini harus menjadi
perhatian bersama, baik peserta didik, guru dan orang tua dalam mengimbanginya
dengan menggunakan gawai secara bijak agar semua tetap terkendali dan menguntungkan
bagai pengguna dan memberikan kontribusi bagi negara bahkan dunia.
SIMPULAN
Perkembangan teknologi yang luar
biasa dengan ditunjukan peningkatan secara pesat pengguna gawai dan internet. Mayoritas
pengguna gawai terdapat di usia remaja atau usia dimana anak sedang menepuh
pendidikan. Teknologi yang masuk di dunia pendidikan tentu membantu banyak dalam
menghadapi turbulensi pendidikan. Misalnya gawai dapat dijadikan media
pembelajaran sampai berkembang menjadi kelas virtual yang menggiring anak
menjadi generasi digital native yang
berkualitas, hal ini akan menjadi
trobosan pendidikan agar tidak monoton dan berkembang seperti pendidikan di
negara maju. Karena pendidikan yang baik akan berpengaruh terhadap baik
buruknya suatu negara. Dari hal tersebut guru dan orang tua juga harus bersikap
bijak dalam penggunaan gawai agar anak tidak terjerumus dalam hal yang salah.
SARAN
Gawai yang akrab dengan kehidupan
sehari-hari semestinya harus diwaspadai oleh peserta didik, guru dan orang tua.
Sebagai pengguna teknologi ini harus mampu membuka mata dan melihat dari sisi
yang berbeda bukan hanya sisi terangnya saja namun sisi gelapnya. Guru dan
orang tua pun hendaknya bekerja sama untuk mengawasi putra-putrinya yang
menggunakan gawai setiap hari dengan melakukan pendampingan secara
berkelanjutan, dan bagi peserta didik harus membedakan mana konten yang positif
maupun negatif, dengan begitu gawai bisa dijadikan teman yang mempermudah
urusan bukan menjerumuskan.
DAFTAR
PUSTAKA
[1] T. Suganda,
“Pengelolaan Pembelajaran Zaman Now ( Generasi Z ),” no. February, 2018.
[2] M. M. Choiri,
“Quo Vadis Pendidikan Multikultural dalam Era Global di Pesantren.”
[3] Kamus Besar
Bahasa Indonesia. .
[4] Y. Warisyah,
“Pentingnya ‘Pendampingan Dialogis’ Orang Tua dalam Penggunaan Gadget pada Anak
Usia Dini,” vol. 2016, no. November 2015, 2016.
[5] S. Chalim,
“Jurnal Penyuluhan, Maret 2018 Vol. 14 No. 1 Peran Orangtua dan Guru dalam
Membangun Internet sebagai Sumber Pembelajaran,” vol. 14, no. 1, 2018.
[6] E. Krisnawati,
“Pola Penggunaan Internet Oleh Kalangan Remaja Di Kabupaten Semarang,” pp.
319–350.
[7] P. A. Chusna,
“Pengaruh Media Gadget Pada Perkembangan Karakter Anak,” pp. 315–330.
[8] Mukodi,
“Tela’ah Filosofis Arti Pendidikan dan Faktor-faktor pendidikan dalam ilmu
pendidikan,” vol. 10, no. 3, 2018.
[9] H. Budiman,
“Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan,” vol. 8, pp. 75–83,
2017.
[10] Muhasim,
“Pengaruh Tehnologi Digital , Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik,” vol. 5,
no. November, pp. 53–77, 2017.
[11] C. A. P. Putra,
“Pemanfaatan Teknologi Gadget Sebagai Media Pembelajaran.”
[12] R. D. Laksono,
“Manfaat Gadget Dalam E-Learning Di Lingkungan Sekolah,” no. June, 2018.
[13] V. V. Saudin,
“Pemgembangan Kelas Virtual Dengan LMS KELASE untuk Rumus Jumlah dan Selisih
Dua Sudut,” pp. 562–568, 2016.
[14] Karakteristik
Guru dan Siswa Abad 21 Capaian Pembelajaran. .
[15] R. Setiyani,
“Pemanfaatan internet sebagai sumber belajar,” vol. V, no. 2, pp. 117–133,
2010.
[16] W. Novitasari
and Nurul Khotimah, “Dampak Penggunaan Gadget Terhadap Interaksi Sosial Anak
Usia 5-6 Tahun,” 2013.
[17] Febrino,
“Tindakan Preventif Pengaruh Negatif Gadget Terhadap Anak,” vol. 1, no. 1, pp.
1–21.
0 komentar:
Posting Komentar