
“Duh Dinda. . . .”,
Setiap
menyunyi hiruk pikuk ribuan juta warna yang tak sengaja sesekali aku kedipi,
Saat
itu juga kau mulai sibuk dengan peranmu yang sengaja aku haruskan menjadi saksi
atas angan-anganku.
Kau
tampak pasrah saat aku dikte melalui renungan, bertingkah sesukamu atas
kehendakku dan kau tetap saja mengiyakannya.
Sampai
pada saatnya engkau menghilang bersama ku dilarutnya lelap yang sekeras apapun
aku mengingat hilangmu tidak akan pernah aku menghafalnya.
6/09/2018
keren kakak, puisinya bagus.
BalasHapus