Mengkaji Puisi Joko Pinurbo yang Berjudul “Celana1” Dengan Teori Semiotika
Celana, 1
Ia ingin membeli celana baru
buat pergi ke pesta
supaya tampak lebih tampan
dan meyakinkan.
Ia telah mencoba seratus model celana
di berbagai toko busana
namun tak menemukan satu pun
yang cocok untuknya.
Bahkan di depan pramuniaga
yang merubung dan membujuk-bujuknya
ia malah mencopot celananya sendiri
dan mencampakkannya.
“Kalian tidak tahu ya
aku sedang mencari celana
yang paling pas dan pantas
buat nampang di kuburan.”
Lalu ia ngacir
tanpa celana
dan berkelana
mencari kubur ibunya
hanya untuk menanyakan:
“Ibu, kausimpan di mana celana lucu
yang kupakai waktu bayi dulu?”
1996
buat pergi ke pesta
supaya tampak lebih tampan
dan meyakinkan.
Ia telah mencoba seratus model celana
di berbagai toko busana
namun tak menemukan satu pun
yang cocok untuknya.
Bahkan di depan pramuniaga
yang merubung dan membujuk-bujuknya
ia malah mencopot celananya sendiri
dan mencampakkannya.
“Kalian tidak tahu ya
aku sedang mencari celana
yang paling pas dan pantas
buat nampang di kuburan.”
Lalu ia ngacir
tanpa celana
dan berkelana
mencari kubur ibunya
hanya untuk menanyakan:
“Ibu, kausimpan di mana celana lucu
yang kupakai waktu bayi dulu?”
1996
Analisis :
Penyair
menganalogikan celana sebagai “sifat kepribadian”. Pada bait pertama dia ingin
mencari sifat kepribadian yang cocok untuk kehidupan duniawi. Hal ini terletak
pada kalimat “Pergi ke pesta” yang berarti nikmat duniawi.
Ia ingin membeli celana baru
buat pergi ke pesta
supaya tampak lebih tampan
dan meyakinkan.
Lalu
dilanjutkan pada bait kedua. Pada bait kedua ini penyair telah mencoba berbagai
“sifat kepribadian” namun tidak ada yang cocok dengan dirinya.
Ia telah mencoba seratus model celana
di berbagai toko busana
namun tak menemukan satu pun
yang cocok untuknya.
Setelah itu
pada bait ketiga. Bait ketiga ini penyair dirayu oleh setan atau kenikmatan
duniawi yang digambarkan penyair sebagai “Pramuniaga”, namun penyair tidak
peduli dan malah melepaskan dan mencampakan “sifat kepribadian” yang
ditawarkan. Hal itu terlihat pada kalimat “ia malah mencopot celananya sendiri
dan
mencampakkannya”
Bahkan di depan pramuniaga
yang merubung dan membujuk-bujuknya
ia malah mencopot celananya sendiri
dan mencampakkannya.
Pada bait
keempat ternyata penyair sedang mencari “Celana yang pas buat nampang
dikuburan” maksutnya adalah penyair sedang mencari “sifat kepribadian” yang pas
dan cocok dibawa saat dikuburan atau bisa dikatakan sifat yang baik yang bisa
dibawa mati.
“Kalian tidak tahu ya
aku sedang mencari celana
yang paling pas dan pantas
buat nampang di kuburan.”
Pada bait kelima
penyair “ngacir tanpa celana dan berkelana” maksutnya adalah dia pergi tanpa
“sifat kepribadian” dan berkelana untuk mencari kuburan ibunya. Lalu dia
mencari kuburan ibunya hanya untuk menanyakan “Ibu, kausimpan di mana celana
lucu yang kupakai waktu bayi dulu?” maksutnya adalah dia menanyakan kepribadian
suci, lucu dan bai seerti bayi, akan tetapi tidak mendapatkan jawaban, karena
ibunya telah meninggal, hal ini terdapat pada kalimat “mencari kubur ibunya hanya untuk
menanyakan:“Ibu, kausimpan di mana celana lucu yang kupakai waktu bayi dulu?”
Lalu ia ngacir
tanpa celana
dan berkelana
mencari kubur ibunya
hanya untuk menanyakan:
“Ibu, kausimpan di mana celana lucu
yang kupakai waktu bayi dulu?”
Simpulan:
Jadi
maksut celana disini adalah kepribadian yang baik dan cocok untuk si penyair
untuk dibawa ke kuburan atau mati. Akan tetapi sipenyair tidak menemukan
kpribadian yang cocok untuk dirinya. Lalu dia menanyakan kepada ibunya yang
sudah meninggal dan tidak mendapatkan jawaban ap

0 komentar:
Posting Komentar